Jam Besuk Rumah Sakit Dibatasi

Perawat di ruang isolasi RSUD dr Doris Sylvanus menyampaikan pesan melalui secari kertas kepada masyarakat, Jumat (20/3).(AGUS PRAMONO/KALTENG POS)

PALANGKA RAYA- RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya mengambil langkah pencegahan dengan membatasi jam besuk rumah sakit. Jika sebelumnya ada jam besuk sore, kini rumah sakit milik pemerintah itu hanya memberlakukan jam besuk pukul 11.00-13.00 WIB.

“Adanya imbauan untuk mencegah virus corona yang terus mewabah, maka RSUD dr Doris Sylvanus membatasi jam besuk, karena rumah sakit merupakan sumber penularan virus atau bakteri yang dapat menimbulkan penyakit,” kata Wakil Direktur RSUD dr Doris Sylvanus dr Theodorus Sapta Atmadja melalui video yang tersebar di media sosial, Jumat (20/3).

Pihak rumah sakit pun mengharapkan pengertian dan kerja sama masyarakat perihal pembatasan jam besuk tersebut. Karena itu, keluarga pasien yang datang berkunjung, diimbau segera meninggalkan rumah sakit ketika jam kunjungan berakhir.

Selain itu, pengunjung dianjurkan untuk tidak membawa serta anak berusia di bawah 12 tahun ke rumah sakit, karena usia itu sangat rentan tertular virus maupun bakteri.

Theo juga mengingatkan masyarakat Kalteng untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan menghindari tempat keramaian. Selalu menjaga jarak dengan orang lain dan tidak melakukan kontak badan. Mencuci tangan menggunakan sabun atau antiseptik serta mengenakan masker dengan baik dan benar.

Theo mengajak semua elemen untuk menggelorakan kembali gerakan masyarakat hidup sehat. Di antaranya memperbanyak makanan dan minuman yang bergizi dan sehat, memperbanyak istirahat, dan berolahraga secukupnya.

Sementara itu, salah satu tim yang tergabung dalam penanganan isolasi Covid-19, Jeri Ripaldon menuturkan, ada sedikit ketakutan pihaknya jika terdapat pasien yang terkonfirmasi menunjukkan gejala Covid-19. Akan tetapi, lanjutnya, karena berprofesi sebagai perawat, mau tidak mau harus menjalankan tugas.

“Kami tetap mengutamakan menjaga kesehatan dan istirahat optimal,” katanya.

Dikatakan perawat yang bertugas sebagai pengawas infeksi ini, meski jam kerja tidak berkurang atau tidak bertambah, akan tetapi beban mental saat ini terasa lebih berat dari biasanya. sebab, risiko penanganan virus ini lebih berat. “Apalagi alat pengaman diri (APD) di Indonesia sangat terbatas. Bersyukur di RSUD dr Doris Sylvanus ini masih ada dan mencukupi,” ucap pria berusia 32 tahun ini.

Editor :dar
Reporter : abw/nue/ram

224 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.