Kaum Ibu Paling Rentan Alami Stres

Ketua Himpsi Wilayah Kalteng Dina Fariza Tryani Syarif.
(foto; medsos himpsi kalteng)

Himpsi Kalteng Buka Layanan Konseling Online

TAK bisa dimungkiri bahwa pandemi Covid-19 sangat berpengaruh terhadap kondisi kejiwaan masyarakat. Menyasar semua jenjang usia. Berdasarkan pengamatan Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) Wilayah Kalteng, kelompok masyarakat yang paling banyak mengeluh adalah kaum perempuan berumah tangga alias kaum ibu.

Ketua Himpsi Wilayah Kalteng Dina Fariza Tryani Syarif mengatakan, pihaknya membuka layanan konseling secara online untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat Kalteng yang memiliki permasalahan psikis selama pandemi Covid-19. Layanan konseling ini sudah dimulai sejak Maret lalu.

“Kami membuka layanan konseling kepada masyarakat Kalteng yang terdampak Covid-19, sejak awal masuknya wabah ini ke Kalteng. Berdasarkan pengamatan pada Maret hingga April, jumlah warga Kota Palangka Raya yang meminta konseling cukup tinggi,” kata Dina kepada Kalteng Pos lewat sambungan telepon, Senin (8/6).

Dalam sehari pihaknya melayani hingga sepuluh orang dengan keluhan dampak Covid-19 ini. Artinya, masyarakat memiliki tingkat kecemasan yang tinggi terhadap keberadaan Covid-19. Dari Maret hingga April, warga yang sudah datang untuk konseling mencapai kurang lebih sekitar 100 orang.

“Pada dasarnya semua jenjang usia terdampak psikisnya karena wabah ini, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Namun, yang datang untuk mendapat konseling dari kami didominasi oleh ibu-ibu, sekitar 70 persen. Pada umumnya mereka merasa cemas jika ada anggota keluarga terinfeksi Covid-19, suami tidak bisa pulang kerja dari perusahaan, maupun keluhan lainnya,” beber Dina.

Perubahan terjadi setelah memasuki bulan Mei hingga Juni. Jumlah yang datang untuk konseling menurun. Bahkan akhir-akhir ini jarang yang datang.

Terkait itu, Dina mengatakan, ada beberapa kemungkinan. Pertama, masyarakat sudah mulai menerima kondisi ini dan bisa beradaptasi dengan pola perilaku yang baru. Kemungkinan lain, masyarakat sudah jenuh dan membiarkannya.

“Tetapi di Kalteng ini tidak terjadi kasus yang begitu parah, hanya didominasi oleh kecemasan saja,” ujarnya.

Diungkapkannya, keluhan yang diutarakan beragam. Mulai dari kecemasan, rasa ketakutan jika terpapar, pikiran soal nasib hidup ke depan, dan beberapa keluhan lainnya. Pada umumnya stres karena aktivitas yang dibatasi, seperti bekerja dari rumah.

“Ada pula permasalahan rumah tangga karena bosan di rumah, sehingga menimbulkan miscommunication antarpasangan,” ungkapnya.

Dina meyakini bahwa ke depannya masyarakat akan mampu beradaptasi dengan pola hidup yang baru, hidup bersih dan sehat, dan memunculkan perilaku positif. Terkait hubungan sosial masyarakat, pihaknya menilai tidak terlalu berdampak saat pandemi Covid-19 ini.

“Soal hubungan sosial masyarakat, saya pikir masih bisa terjalin dengan baik, karena zaman sekarang sudah canggih alat komunikasi,” jelasnya.

Pihaknya melihat, seiring berjalannya waktu, masyarakat sudah mulai bisa menerima dan beradaptasi dengan kondisi pandemi. Alhasil terbentuklah perilaku baru yang positif, seperti menggunakan masker saat beraktivitas di ruang publik, sering mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga jarak, dan lainnya. Pihaknya juga menilai  bahwa masyarakat Kota Palangka Raya sudah bisa menjalankan new normal ke depannya.

“Saya amati masyarakat di Kota Palangka Raya bisa menjalankan new normal apabila betul-betul diatur. Saya pikir masyarakat ke depan bisa memahami kondisi ini dan menerimanya,” pungkas Dina. (kaltengpos/KPFM-101)

308 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.