Acara Penyelesaian perdamaian adat, Duduk Bersama Selesaikan Konflik

Foto : DR. Elia Embang (baju hitam), dan Ketua WALHI Kalteng Dimas Novian Hartono, saat Sidang Adat Di Aula Betang Hadurut Sabtu, 14/11.

PALANGKA RAYA – Suasana Hening dan Khidmat mewarnai acara Penyelesaian Perdamaian Adat antara DR. Elia Embang, S.E.,M.Si. dengan Ketua WALHI Kalteng Dimas Novian Hartono. Acara Sidang Adat dilaksanakan pada Sabtu 14/11 di Aula Betang Hadurut Jl. Temanggung Tilung XVIII.

Sidang terbuka untuk umum ini dipimpin Let Perdamaian Adat, Damang Jekan Raya Kardinal Tarung. Persidangan terjadi karena adanya konflik antara Tokoh Adat DR. Elia Embang dengan Ketua Walhi Kalteng. Tujuan proses peradilan yang digelar, untuk menegakkan hak asasi manusia, mengembalikan keadaan semula, apakah nanti berupa keputusan atau ketetapan, maka para pihak bisa menjalani seperti biasa.

“Penyebab sidang adat digelar karena Unggahan Kata-kata yang ditulis oleh Dimas Novian Hartono, dimana dia sebagai Ketua Walhi Kalteng. Karena unggahan ini Sehingga tokoh adat DR. Elia Embang Merasa keberatan atas perkataan yang bertuliskan “Andre Elia Embang mari kita doakan kak jaga kesehatan dan kewarasan” yang ditulis oleh Akun WALHI Kalimantan tengah beberapa waktu lalu,” Ucapnya.

DR Elia Embang yang pada saat Sidang tersebut mengungkapkan,  menurut orang dayak bahwa ‘jaga kewarasan’ adalah salah satu orang yang pernah kena gangguan jiwa, kemudian diobati, kemudian ahli yang mengobati gangguan jiwa tersebut mengingatkan kepada orang yang diobati tersebut supaya jaga kewarasan.

Sementara Ketua WALHI Kalteng Dimas Novian Hartono mengatakan, dirinya mengakui dengan adanya tulisan tersebut di media sosial (medsos).

“Memang iya ada Unggahan dengan tulisan tersebut, namun sama sekali Tidak ada niatan Kami untuk menghina atau melakukan pelecehan kepada tokoh Adat Dayak, atau juga yang merasa terhina, dengan unggahan tersebut.

Kami berinisiatif membuka komunikasi, ke Dewan Adat Dayak (DAD) juga kepada DR. Elia Embang, sehingga permasalahan ini bisa terselesaikan. Kami berharap setiap permasalah konflik sosial dimasyarakat bisa dilakukan, dengan adanya penyelesaian adat. Karena selama ini Ketika berkonflik dengan pihak Investasi maupun korporasi posisi Masyarakat Adat selalu lemah. Dengan adanya Sidang Adat kita berharap posisi dari masyarakat adat bisa lebih tinggi lagi,” Jelasnya Usai Acara.

Sidang Adat ditutup dengan acara pemakaian gelang, dan Makan bersama. Dalam Sidang dihadiri sejumlah tokoh adat dayak, Satgas Batamad, Kapolsek Pahandut, serta Tamu undangan lainnya.

Hukum Dayak adat istiadat, berkontribusi menciptakan ketentraman dan ketertiban di tengah-tengah masyarakat di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI. berdasarkan hukum adat Dayak, yang dapat diterima dan merupakan suatu sistem hukum, yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial. (Dha)

509 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.