Engkos dan Endah, Pasangan Lansia yang Hobi Mendaki

Tiga Gunung Tertinggi Berhasil mereka Ditaklukkan

ALON-ALON ASAL KELAKON: Engkos dan Endah berhasil mencapai puncak Semeru pada 2015. (Engkos Kurnia untuk Jawa Pos)

Awalnya pengin bulan madu di gunung, eh ketagihan. Engkos dan Endah punya impian mendaki tujuh gunung tertinggi di Indonesia. Tiga di antaranya berhasil tercapai. Empat sisanya menjadi PR di usia mereka yang tak lagi muda. Bukan masalah, namanya juga hobi, katanya.

GUNUNG menjadi saksi perjalanan cinta Engkos Kurnia dan Endah Juwita. Dua sejoli itu memutuskan mencoba mendaki sebulan setelah menjadi pasangan suami istri pada 1989. Gunung Ciremai di Jawa Barat menjadi yang pertama mereka sambangi.

”Agustus nikah, September ke gunung berdua. Namanya anak muda, ceritanya bulan madu gitu, ke Gunung Ciremai yang dekat rumah saya,” ujar Engkos.

Awalnya coba-coba, lanjut dia, sekali naik malah ketagihan. Namun, keduanya harus menunda kesenangan tersebut untuk fokus mengurus anak. Baru pada 2013, pasangan asal Kuningan itu kembali naik gunung. ”Pas punya anak berhenti dulu, besarin anak dulu. Paling cuma kamping aja,” tuturnya.

Tiga gunung tertinggi berhasil mereka taklukkan. Yakni, Gunung Semeru, Gunung Rinjani, dan Gunung Kerinci. Pasangan berusia 65 tahun itu mengungkapkan cita-citanya untuk mendaki tujuh gunung tertinggi di Indonesia.

”Targetnya tujuh gunung tertinggi di Indonesia. Masih empat lagi yang belum, PR. Kalau memungkinkan, ada umur, ada biaya. Tidak apa-apa kan kakek nenek punya cita-cita?” lontar Engkos.

Keduanya sudah berencana berangkat ke Sulawesi untuk melanjutkan ekspedisi tujuh gunung tertinggi di Indonesia. Tepatnya mendaki Gunung Latimojong (3.478 mdpl) setelah terakhir pada 2019 ke Gunung Kerinci, gunung tertinggi di Sumatera.

Namun, Engkos dan Endah kembali harus bersabar. Pandemi membuat banyak tempat ditutup. Termasuk jalur pendakian. Syarat bepergian pun diperketat.

’’Dua tahun vakum, terkendala aturan Covid. Naik pesawat juga aturannya banyak, ya sudah berhenti dulu. Rencananya, habis ini mau ke Gunung Latimojong,” ungkap Engkos.

Layaknya pasangan muda yang ke mana-mana bersama, Engkos dan Endah pun selalu mendaki berdua. Sepanjang trek, mereka bersenda gurau membicarakan banyak hal. Tak jarang, pendaki lain mengajak mereka berfoto saat berpapasan.

”Ketemu pendaki-pendaki muda itu selalu diajak foto. Aneh mungkin ya, soalnya kakek-kakek nenek-nenek kok main ke gunung, hahaha,” ceritanya, lantas terkekeh.

Dari sekian gunung, Rinjani menjadi gunung paling berkesan bagi keduanya. Mereka menghabiskan waktu cukup lama di sana. Hampir sepekan saking nyamannya dengan alam yang disuguhkan.

”Gunung Rinjani ada segaranya, Segara Anak, bisa mancing di sana. Tempat kampingnya juga dekat. Kalau mau mandi, ada semacam sungai kecil yang airnya air panas gitu,” beber kakek lima cucu itu.

Pengalaman mendaki tak selamanya indah. Bergelut dengan cuaca yang mendadak tidak bersahabat sudah biasa. ”Sering kita berangkat cerah, di tengah hutan hujan deras. Kalau tersasar mah alhamdulillah belum pernah. Kalau pengalaman mistis, ada banyak,” katanya.

Engkos kemudian menceritakan pengalamannya saat mendaki Gunung Gede. Ketika itu, dia berangkat malam bertiga bersama sang istri dan keponakan. Begitu sampai di sebuah jembatan yang memang dikenal horor, ada yang melempari mereka dengan pasir.

”Lihat atas enggak ada apa-apa, enggak ada burung, enggak ada apa. Sempat takut, tapi kita punya Tuhan, ya berdoa saja. Yang penting, kita hormati adat istiadat penduduk setempat,” ujar Engkos.

Masih di Gunung Gede. Kali ini Endah yang diperlihatkan sebuah rumah terang di tengah hutan. Terlihat dua orang sedang duduk dan satu sosok hitam yang diam saja saat diajak bicara. Begitu melewati rumah tersebut, Endah menengok ke belakang dan tidak menemukan apa pun. ”Kok ngurusi hantu ya Pak, cari jalan aja susah,” imbuh Endah.

Mendaki di usia yang mulai senja tentu berbeda dengan saat masih muda. Olahraga menjadi pilihan Engkos dan Endah untuk menjaga stamina tetap bugar. Yang utama latihan mengatur napas.

”Semakin tinggi, kan oksigen semakin menipis. Jadi, harus atur napas. Olahraga paling lari kecil di sekitar rumah, jalan kaki, main sepeda,” lanjut Engkos.

Meski begitu, semangatnya bisa diadu dengan pendaki muda. Engkos menyebut ada kepuasan tersendiri saat berhasil mencapai puncak. Prinsipnya, alon-alon asal kelakon. ”Sekarang mah sekuatnya aja. Kalau lelah berhenti, jangan dipaksakan, yang penting sampai. Sayangi tubuh sendirilah,” tuturnya.

Tidak ada kata lelah. Endah menambahkan, tubuhnya justru sakit semua jika hanya berdiam di rumah. Selama pandemi dan tidak bisa mendaki, keduanya tetap menghabiskan waktu di alam. Mereka refreshing dengan kamping, ke kebun, hingga memancing di kolam.(jpc)

118 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.