Lima Daerah Kasus HIV/AIDS Tertinggi

“Kami selaku pemegang program HIV/AIDS Dinkes Provinsi Kalteng berkolaborasi dengan relawan untuk menjalankan program-program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS”

Riza Syahputra

Kepala Bidang P2P Dinkes Kalteng

PALANGKA RAYA-Penyakit HIV/AIDS disadari atau tidak terus menjadi momok di Kalteng. Data terbaru menunjukkan cukup tinggi kasus ini di Bumi Tambun Bungai. Segenap pihak yang berperan aktif dalam mengurus masalah kesehatan yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut terus melakukan pemantauan, pencegahan, dan penanggulangan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Suyuti Syamsul melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Riza Syahputra mengatakan, dalam upaya menanggulangi kasus HIV/AIDS di Kalteng, pihaknya berkonsentrasi di beberapa wilayah yang tercatat punya angka kasus HIV/AIDS tertinggi, seperti Kotawaringin Barat (Kobar), Kotawaringin Timur (Kotim), Palangka Raya, Kapuas, dan Barito Utara (Batara).

“Di daerah-daerah tersebut kasus HIV/AIDS cukup tinggi. Bukan berarti kami mengesampingkan daerah-daerah lain, tapi kami lebih konsen ke daerah-daerah itu, karena jumlah kasusnya lumayan tinggi dan penduduknya pun banyak,” ucapnya kepada wartawan, Minggu (4/12).

Program-program yang dijalankan dalam upaya menurunkan angka HIV/AIDS di daerah yang menjadi fokus perhatian pihaknya, lanjut Riza, antara lain berupa pelatihan kader dan pemeriksaan terhadap tenaga kesehatan untuk memastikan positif atau negatif HIV/AIDS. Selain itu, konseling juga dilakukan pihaknya menggunakan anggaran dari APBN dan global funding (pendanaan dari luar negeri).

“Kami akan tetap turun ke lapangan, memberi pelatihan-pelatihan kepada petugas, termasuk pemeriksaan dadakan di beberapa tempat. Memang ada relawan yang turun ke daerah untuk menjangkau komunitas-komunitas, karena pengidap HIV/AIDS ini banyak komunitasnya,” tutur Riza.

“Kami selaku pemegang program HIV/AIDS Dinkes Provinsi Kalteng berkolaborasi dengan relawan untuk menjalankan program-program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS,” tambahnya.

Untuk menghindari penyakit HIV/AIDS, Riza mengimbau agar tiap rumah tangga selalu menjaga keharmonisan dan setia kepada pasangan masing-masing. Sebab, potensi tertularnya HIV/AIDS dikarenakan suka berganti pasangan seks.

“Karena kita tidak tahu pasangan yang kita intimi itu bebas HIV atau enggak, karena tidak ada ciri-ciri khusus orang terkena HIV/AIDS, jadi kalau mau terhindar dari HIV/AIDS, setialah dengan pasangan Anda,” jelasnya.

Selain karena suka berganti pasangan seks, tutur Riza, konsumsi narkoba menggunakan jarum suntik juga turut menjadi penyebab penularan HIV/AIDS.

“Jarum suntik itu berganti-ganti ya, berganti antara satu pecandu narkoba dengan pecandu lainnya, tidak bisa menjamin bahwa jarum suntik yang dia pakai untuk narkoba itu bebas HIV/AIDS, seandainya temannya mengidap HIV/AIDS, pasti akan tertular,” ucapnya.

Menurut Riza, jika masyarakat Kalteng berkomitmen untuk menghindari hal-hal itu, maka bisa diusahakan untuk menekan kasus HIV di Kalteng. “Jadi tergantung pada masyarakat kita,” tandasnya.

Terpisah, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kalteng Saidah Suryani mengatakan, data kasus HIV/AIDS di Kalteng saat ini menyentuh angka ribuan. “Kasus HIV/AIDS di Kalteng itu hampir 2.000, itu pun sebenarnya datanya belum final,” bebernya kepada awak media, Minggu (4/12).

Jumlah tersebut tidak begitu menunjukkan data riil di lapangan, mengingat proses pendataan belum merata. Karena itu, Saidah memperkirakan jumlah kasus HIV/AIDS bisa saja lebih tinggi jika proses pendataan meng-cover semua daerah.

“Datanya itu belum final, data itu kita ambil dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng. Kalau data dari KPA, belum merata datanya, karena tidak semua kabupaten/kota punya KPA aktif,” ungkapnya.

Dikatakan Saidah, KPA yang aktif hanya di Kota Palangka Raya, Kotawaringin Timur, dan Kotawaringin Barat. “Daerah yang paling tinggi kasus HIV/AIDS adalah Kota Palangka Raya,” tuturnya.

Saidah menjelaskan, tugas pihaknya selaku Komisi Penanggulangan AIDS adalah melakukan sosialisasi dan edukasi sebagai upaya pencegahan. Terkait penyebab tingginya kasus, beber Saidah, jika melihat tren beberapa tahun lalu, penyumbang tingginya angka HIV/AIDS didominasi oleh pekerja seks dan pengguna narkoba yang menggunakan jarum suntik. Namun, tren terbaru menunjukkan tingginya kasus HIV disebabkan karena perilaku seks yang menyimpang di kalangan pria, yaitu lelaki seks lelaki (LSL).

“Memang tren beberapa tahun lalu, angka HIV/AIDS didominasi oleh wanita pekerja seks dan pengguna narkoba. Namun beberapa tahun belakangan, bukan lagi yang paling besar, karena hanya menyumbang tiga sampai lima persen kasus HIV/AIDS, yang paling banyak berkontribusi pada tingginya kasus ini (di atas 50 persen) adalah LSL,” bebernya.

Yang termasuk dalam kategori LSL, lanjut Saidan, adalah homoseksual dan heteroseksual. “Yang heteroseksual itu maksudnya punya istri, punya anak, tapi juga suka dengan sesama jenis,” ucapnya.

Dalam upaya mencegah meningkatnya kasus HIV/AIDS ke depan, kata Saidah, tidak cukup hanya dilakukan oleh pihaknya. Perlu ada kerja sama dengan lembaga-lembaga lain, termasuk lembaga kesehatan. “Mitra kami adalah dinas kesehatan dan rumah sakit rujuan pasien pengidap HIV/AIDS,” tambahnya.

Tak hanya bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang langsung menangani kasus HIV/AIDS, pihaknya juga bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan. Sebab, angka kasus LSL juga disumbang oleh para pelajar dan mahasiswa. “Karena LSL yang lebih dari 50 persen tadi juga diisi oleh pelajar dan mahasiswa,” bebernya.

Saidah menyebut bahwa tugas pihaknya tidak dalam ranah menangani perilaku menyimpang seperti penyebab terbesar meningkatnya angka HIV/AIDS di Kalteng dewasa ini. Namun karena tren angka dalam data HIV/AIDS yang jadi penyebab tingginya kasus tersebut didominasi oleh LSL, maka penyebab tersebut tidak jauh atau sangat berhubungan dengan perilaku seks yang menyimpang, sehingga mau tak mau pihaknya ikut menangani.

“Penyebabnya tak jauh dari perilaku seks yang jadi tren dewasa ini, termasuk isu-isu yang kemarin ngetren seperti LGBT. Walaupun Lesbian dalam LGBT itu bukan termasuk risiko tinggi, tapi kasusnya ini lebih banyak disebabkan oleh perilaku yang LGBT,” tuturnya.

Pengidap LGBT di Kalteng saat ini, lanjut Saidah, tak hanya dialami para pelajar dan mahasiswa, tapi juga yang sudah bekerja, termasuk di beberapa instansi pemerintahan. “Banyak, ada juga yang ASN, Satpol PP, mohon maaf saya sebut saja ya, di lembaga-lembaga lain juga ada,” bebernya.

Dalam upaya menanggulangi LGBT, kata Suryani, pihaknya bekerja sama dengan tim penjangkau dan pendamping untuk memberikan pendampingan di tiap kota yang terdapat dua sampai empat orang.

“Mereka itu yang akan melakukan pendampingan kepada masyarakat yang memang sudah terkena HIV/AIDS, kadang ada yang malu, merasa tabu, sehinggs mereka malas untuk berobat. Nah, pendamping dan penjangkau ini perannya mengajak mereka untuk memberikan motivasi agar jangan sampai putus asa dan menyerah, Sebaliknya semangat untuk rutin berobat,” jelasnya.

Apabila penyakit HIV/AIDS ini sudah dideteksi sejak dini, lanjut Suryani, lebih cepat pula ditangani. “Memang virus HIV/AIDS ini tidak bisa sembuh, makanya harus minum obat tiap hari sepanjang hidup,” ucapnya.

Terpisah, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Kalimantan Tengah dr Mikko Uriamapas Ludjen mengatakan, pihaknya cukup khawatir melihat kasus HIV/AIDS di Kalteng dewasa ini. Ketakutan itu bukan tanpa alasan. Justru yang banyak tertular adalah kelompok produktif, yakni kaum muda.

“Kami cukup khawatir, karena yang lebih banyak kena adalah mereka yang usia produktif, remaja, baik wanita maupun pria,” ungkapnya kepada Kalteng Pos, Minggu (4/12).

Dikatakan Mikko, dalam upaya membantu menurunkan kasus HIV/AIDS, pihaknya mengikuti kebijakan dari Dinkes Provinsi Kalteng. Namun pihaknya juga selalu melakukan upaya promotif, berhubungan langsung dengan masyarakat, termasuk turun ke sekolah-sekolah. Pihaknya juga menjalin kerja sama dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh lain yang menjadi panutan kaum muda di masyarakat, untuk sosialisasi dan edukasi terkait HIV/AIDS bagi kalangan muda.

Saat ini sudah ada beberapa rumah sakit yang memiliki alat mendeteksi HIV/ADIS. “Berkenaan dengan pengobatan, bila sudah tertular HIV/AIDS, di beberapa rumah sakit besar sudah ada tim PCT, bisa mendeteksi bahkan memberi pengobatan,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan Mikko, IDI Kalteng telah berkolaborasi dengan pemerintah untuk upaya penanggulangan kasus HIV/AIDS. IDI punya divisi yang terus berkoordinasi dengan Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Provinsi Kalteng. Koordinasi itu diwujudkan dengan diadakan rapat rutin untuk membahas penyelesaian perkembangan kasus HIV/AIDS di Kalteng. “Rapatnya rutin tiap tiga bulan. Kami terus membahas berbagai upaya untuk menanggulangi HIV/AIDS,” bebernya.

“Intinya IDI sangat prihatin atas kasus ini dan berupaya mendukung kebijakan pemerintah dalam penanggulangan HIV/AIDS,” tandasnya. (dan/ce/ala/kpfm)

229 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.