Dua Kelurahan Terdampak, 21 Rumah Rusak

Ablasi Meruntuhkan Rumah Warga di Tepian Kahayan

AMBRUK: Bangunan rumah warga di tepian Sungai Kahayan ambruk akibat ablasi yang terus meluas. Tampak kondisi bangunan rumah warga, Selasa (10/1).

PALANGKA RAYA-Kian hari ablasi di tepian Sungai Kahayan makin meluas. Jumlah rumah yang rusak terus bertambah. Total sudah 21 rumah yang rusak di permukiman Flamboyan Bawah. Bangunan rumah warga yang runtuh akibat ablasi itu berada di wilayah Kelurahan Langkai dan Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut, Palangka Raya. 

Pekan lalu, ablasi pertama terjadi di permukiman warga di Flamboyan Bawah dan meruntuhkan 16 rumah warga. Sepekan berlalu, peristiwa yang sama terjadi lagi di Gang Kenanga, Jalan Kalimantan. Ablasi kali ini meruntuhkan 5 rumah warga yang berada di bibir Sungai Kahayan. Dua rumah di antaranya mengalami kerusakan berat. Sehingga total 21 rumah yang terdampak ablasi.

Ketua RT 02/RW 17 Yulia Ivana menyebut tidak mengetahui pasti kapan persisnya kejadian itu. Namun laporan diterima dari masyarakat sudah sejak Jumat (6/1).

“Tapi pas kejadian itu masih sedikit saja dan belum separah ini, ternyata yang sudah mulai parah itu sekitar hari Kamis atau Jumat, selisih dari yang hari Selasa sebelumnya telah terlihat tanda-tanda,” bebernya saat ditemui wartawan di lokasi kejadian, Selasa (10/1).

Ivana mengatakan, warga baru melaporkan kejadian itu setelah kondisi sudah parah, tepatnya beberapa hari setelah terlihatnya tanda-tanda ablasi. “Warga sudah merasakan tanda-tanda (tanah, red) mau runtuh sejak Selasa, tapi baru melapor hari Jumat,” tuturnya.

Salah satu rumah warga menyisakan bagian depannya saja, sementara bagian belakang tinggal puing-puing. Dinding dan bagian penyusun rumah telah ambruk. Di depan rumah yang luluh lantak itu, duduk seorang wanita berusia 50 tahun, Siti Sarah, pemilik rumah itu.

Siti mengungkapkan, pada Kamis malam (5/1) hujan cukup deras. Saat itu terdengar kecipak tanah dari balik lantai rumah. Kemudian tak berselang lama, rumahnya ambruk karena tanah tidak mampu lagi menopang fondasi rumah.

“Waktu itu, pas hujan-hujan beserta angin, kami langsung keluar, bagian belakang rumah kami (dapur) sudah rubuh total, melayang ke bawah sana,” ungkap Siti kepada awak media sambil menunjuk bagian belakang rumahnya yang sudah tenggelam ke sungai, kemarin.

Meski begitu, Siti mengaku bersyukur karena sudah mengantisipasi, dengan membereskan barang-barang berharga ke tempat aman. Ia mengaku sudah melapor sejak hari pertama adanya tanda-tanda ablasi, tapi baru ditindak sekarang.

”Dari malam Rabu, hari Selasa malam, kami langsung pindah, karena hari itulah yang parah. Sebelum rumah kami hancur, kami sudah merasakan bunyi jatuhnya tanah dari balik lantai rumah, tongkat penopang rumah kami mulai miring,” beber wanita yang tinggal serumah bersama suami dan satu orang anak itu.

Kondisi ablasi cukup parah. Beberapa rumah luluh lantak dan tidak dapat dihuni lagi. Bangunan runtuh karena tanah yang menjadi tumpuan fondasi rumah ambruk. Sebagian warga pun terpaksa mengungsi. Beberapa rumah lain yang juga berada di pinggir sungai juga mulai mengalami keretakan dan berpotensi terkena ablasi.

Pemerintah pun mengupayakan agar warga yang rumahnya terdampak ablasi secepatnya dipindahkan ke posko pengamanan sebagai bentuk penanganan jangka pendek.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya Emi Abriyani, total rumah yang terdampak ablasi sebanyak lima rumah, yang mana dua rumah rusak berat dan tiga rumah hanya mengalami kerusakan sebagian. “Semuanya ada tujuh KK,” beber Emi kepada media saat meninjau lokasi terdampak ablasi di Gang Kenangan, Jalan Kalimantan, Kelurahan Pahandut, Selasa siang (10/1).

Emi mengatakan, pemko telah mengambil kebijakan untuk merelokasi warga. Namun saat ini masih melakukan pendataan. Untuk penanganan sementara, dibangun posko pengungsian, dapur umum, sembari mengkaji terlebih dahulu sejauh mana kekuatan tanah di wilayah ablasi dan memetakan daerah rawan.

“Yang pasti ada relokasi, ini akan dilakukan kajian-kajian untuk dasar mengambil tindakan, tentunya akan kami laporkan kepada bapak wali kota untuk langkah selanjutnya, apabila dilaksanakan relokasi, tentu ke tempat yang lebih aman,” tuturnya.

Dikatakan Emi bahwa saat ini pihaknya sudah membuat tiga klasifikasi. Yakni daerah dengan risiko tinggi, daerah dengan risiko sedang, dan daerah dengan risiko kecil. Makin dekat dengan sungai, maka makin berisiko mengalami ablasi.

Terkait detail berapa rumah dan rincian data mengenai daerah mana saja yang masuk zona risiko tinggi itu, lanjut Emi, pihaknya masih melakukan pendataan bersama ketua RT, lurah, camat, serta perangkat daerah terkait seperti Bappedalitbang dan Disperkimtan.

“Kami juga akan menentukan mana daerah yang betul-betul rawan bahaya, ini tidak mungkin dilakukan satu sampai dua hari saja, kami akan lakukan pemetaan secara serius terhadap daerah yang betul-betul berbahaya,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Camat Pahandut Berlianto mengatakan, pihaknya telah meminta pihak kelurahan untuk menangani urusan pendataan. Seperti Kelurahan Langkai, Pahandut, dan Pahandut Seberang. “Sekarang kami masih menghimpun data dari tiap kelurahan,” bebernya.

Sejauh ini terdapat dua kelurahan terdampak ablasi, yang notabene berada di wilayah Kecamatan Pahandut. Yakni Kelurahan Langkai dan Kelurahan Pahandut. Terdapat 16 rumah yang terdampak ablasi di Kelurahan Langkai dan 5 rumah di Kelurahan Pahandut.

“Di sana (Kelurahan Langkai, red) ada enam belas rumah, di sini ada tujuh KK dengan lima rumah, total sementara dua puluh satu rumah, sejauh ini kita masih melakukan pendataan, data itu akan menjadi acuan untuk melakukan penanganan selanjutnya,” tandasnya.

Konsep Kahayan River Side Bisa Mengurangi Kawasan Kumuh

Ada konsep konstruksi yang dapat meminimalkan citra kawasan kumuh menjadi lebih baik dari segi kelayakan hunian. Konsep tersebut dinamakan Kahayan River Side.

Ini merupakan konsep bangunan outdoor yang dapat memperbaiki kondisi kawasan kumuh yang tampak tidak terawat, dengan membangun jalan lingkungan dan penambahan tanah berupa pembuatan siring, untuk memperbaiki kualitas kawasan agar lebih tertata.

Kepala Subbagian Umum Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Kalteng Hariman Syaifullah mengatakan, konsep Kahayan River Side sudah diterapkan di daerah Pahandut Seberang. Salah satu konsep bangunan yakni dengan dibangunnya jalan lingkungan.

“Jadi konsepnya ketika awalnya kawasan kumuh itu terlihat jelas, kami sendiri nanti akan menyiapkan prasarana demi mengurangi terlihatnya kawasan kumuh itu, bisa dengan membangun jalan lingkungan atau dengan penambahan tanah untuk membangun siring, supaya daerah yang tadinya rawan banjir menjadi tidak rawan banjir,” jelas Hariman kepada Kalteng Pos, Selasa (10/1).

Hariman menambahkan, selain membangun jalan lingkungan, konsep Kahayan River Side juga dapat diterapkan dengan membangun prasarana pendukung lain, yang pada prinsipnya menunjang agar kawasan kumuh dapat diminimalkan.

“Bisa dengan membangun prasarana lain seperti got atau selokan untuk meminimalkan persebaran sampah dan berbagai benda lain yang membuat suatu wilayah terlihat kumuh,” tandasnya. (dan/ce/ala/kpfm)

179 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.