Karhutla Naik Drastis, Lahan Makin Kritis

Kalteng Mengusulkan Penambahan Helikopter Water Bombing

KESULITAN PEMADAMAN: Tim pemadam berjibaku memadamkan api yang membakar lahan di Jalan Karya Hapakat, Jalan Tjilik Riwut Km 14, Palangka Raya, Rabu (9/8).

PALANGKA RAYA-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus terjadi di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng). Jumlah kejadian pun meningkat drastis. Kondisi itu terjadi hampir di seluruh kabupaten/kota. Tercatat luas kebakaran sejak Januari hingga 8 Agustus lalu mencapai 2.534 hektare (ha) (data lengkap pada tabel). Kebakaran berdampak buruk terhadap kualitas udara. Kondisi lahan pun makin kritis.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng Ahmad Toyib mengungkapkan, berdasarkan data yang dihimpun per 8 Agustus 2023, luas lahan yang terbakar di Kalteng sejak 1 Januari 2023 hingga 8 Agustus 2023 sudah menyentuh angka 2.534 ha.

“Kalau dilihat dari kejadian karhutla, sejauh ini Barito Selatan mendominasi kasus karhutla, diikuti oleh Kapuas, Palangka Raya, dan Kotawaringin Timur,” kata Toyib kepada Kalteng Pos, Rabu (9/8).

Toyib menyebut, daerah dengan kasus karhutla yang banyak saat ini adalah Kabupaten Barito Selatan (Barsel) dengan total 219 kasus, Kapuas dengan total 118 kasus, Kotim 115 kasus, dan Palangka Raya dengan total 107 kasus.

“Kalau untuk kejadian yang kemarin (Selasa) aja, di Barito Selatan ada 14 kejadian dalam sehari. Jadi, dua minggu belakangan intensitas kejadian karhutla meningkat, di Sukamara, Palangka Raya, Kotim, dan Seruyan juga sama,” ujarnya.

Meningkatnya jumlah kejadian karhutla di 14 kabupaten/kota, lanjut Toyib, cukup membuat petugas pemadaman kewalahan. Petugas siap menindaklanjuti tiap kejadian karhutla di masing-masing daerah.

“Hanya saja kalau kasusnya seperti di Barsel, yang dalam sehari terjadi 14 kasus, itu sangat merepotkan petugas di lapangan. Kalau sudah begitu, mereka minta back up ke kami melalui satgas udara, sehingga bisa pakai helikopter untuk melakukan water bombing,” tuturnya. 

Namun, lanjut Toyib, bantuan melalui satgas udara belum maksimal karena keterbatasan sarpras, dalam hal ini jumlah unit helikopter untuk melakukan water bombing.

“Untuk satu lokasi saja bahkan sampai 30 kali water bombing-nya, kalau sebarannya lumayan luas, butuh waktu juga. Untuk mengantisipasi hal itu, kami butuh lebih banyak helikopter water bombing,” ungkapnya.

Toyib mengatakan, pihaknya sudah mengajukan usulan ke BNPB terkait penambahan empat unit helikopter water bombing.

“Kemarin Pak Gubernur sudah menyampaikan ke BNPB, tinggal menunggu realisasinya, mungkin dalam waktu dekat ada bantuan satu helikopter blackhawk dengan kapasitas 4.000 liter, segera akan bergeser ke Palangka Raya,” sebutnya.

“Kami mengusulkan ke BNPB melalui gubernur, meminta tambahan empat unit helikopter, yakni satu unit helikopter patroli dan tiga unit helikopter water boombing untuk mendukung satgas udara dalam memaksimalkan upaya pemadaman api,” tambah Toyib.  

Jika sudah didatangkan, helikopter itu akan dipusatkan di wilayah Kalteng bagian barat, karena saat ini ada banyak kejadian karhutal di wilayah tengah dan barat Kalteng.

“Yang di Barsel, Kapuas, dan Palangka Raya masih bisa ter-cover, kalau sudah ke arah Seruyan, Sukamara, Sampit butuh heli khusus, karena jangkauannya jauh,” ujarnya.

BPBPK Kalteng terus berkomunikasi dengan BPBD kabupaten/kota dan jajaran dalam upaya melakukan pemadaman karhutla. Terutama daerah-daerah yang telah menetapkan status siaga karhutla. Pihaknya juga berharap pemerintah kabupaten/kota yang telah menetapkan status siaga agar memanfaatkan dana BTT untuk memaksimalkan upaya pemadaman.

“Kalau sudah melakukan penetapan status siaga, sebaiknya manfaatkan dana BTT untuk penambahan personel, kalau personel masih kurang, bisa rekrut relawan tambahan menggunakan dana BTT,” tuturnya.

Melihat lonjakan kasus karhutla yang terjadi dalam dua pekan terakhir, Toyib menyebut, beberapa daerah sudah mengusulkan untuk menaikkan status dari siaga menjadi tanggap darurat bencana karhutla.

“Kami masih melihat potensi tersebut, kalau memang ada beberapa kabupaten yang sudah mulai menerapkan, kami akan berkoordinasi dengan tim satgas untuk merapatkan untuk membicarakan status tanggap darurat,” jelasnya.

Untuk menetapkan status tanggap darurat, Toyib menyebut pihaknya sudah memiliki tim kaji cepat yang terus melakukan analisis keparahan bencana di lapangan. Berdasarkan identifikasi sejauh ini dan mengacu pada data kejadian karhutla yang terjadi, daerah yang berpotensi menetapkan status siaga darurat adalah Barito Selatan, Kapuas, dan Kotim.

“Tetapi masing-masing daerah itu tentu akan gelar rapat dahulu bersama tim satgas mereka di lapangan, setelah itu barulah dapat melakukan penetapan status,” tuturnya.

Berdasarkan imbauan dari pemerintah pusat, Toyib menambahkan, penyelesaian kasus karhutla harus mengedepankan upaya pencegahan daripada penanggulangan.

“Gubernur tidak bosan-bosannya mengingatkan tim satgas provinsi dan kabupaten/kota serta seluruh instansi terkait agar terus menyosialisasikan kepada masyarakat untuk mencegah kebakaran, salah satunya dengan tidak membakar saat membuka lahan,” tutupnya. (dan/zia/ce/ala/kpfm)

135 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.