Korban Kebakaran Cuma Bawa Baju Selembar

Pengungsi Sebut Kebutuhan Anak-anak Sangat Diperlukan

PENGUNGSI: Warga Gang Kahanjak yang menjadi korban kebakaran mengungsi di GOR Kompleks Sanaman Mantikei, Palangka Raya, Kamis (3/8). Foto: ILHAM/KALTENG POS

PALANGKA RAYA-Korban kebakaran di Jalan Kahanjak kawsan Flamboyan Bawah RT 004/RW 008, Kelurahan Langkai mengungsi di GOR Kompleks Sanaman Mantikei, Palangka Raya. Total ada 180 jiwa yang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran yang terjadi pada, Selasa (1/8). Kebakaran ini membuat puluh kepala keluarga (KK) kehilangan harta dan benda. Sebagian warga yang menjadi korban hanya membawa baju selembar di badan.

Aulia salah satu korban yang kebakaran yang terjadi beberapa hari lalu. Ia mengaku jika sejauh ini yang mereka dapatkan umumnya bantuan makanan saja.

“Kalau untuk susu anak dan kebutuhan anak-anak lainnya masih belum ada,” terangnya pada Kalteng Pos, Kamis (3/8).

Karena saat ini ia memiliki anak yang masih berusia 9 bulan, sehingga cukup membuatnya cemas jika sang anak terkena dampaknya juga.

“Selama mengungsi disini sebenarnya tidak apa, tapi khawatir sama si kecil ini aja soalnya agak rewel sedikit karena kepanasan disini,” ujarnya. Ia mengatakan jika kipas angin pun mereka membeli baru agar sang anak bisa tertidur pulas. “Kan kemarin pas kebakaran itu ludes semua terbakar, cuma keluar gendong anak sama baju selembar di badan,” tambahnya.

Menurut penuturannya api menjalar dengan cepat, sehingga untuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil berkas penting keluarganya tidak sempat. Namun sekalipun demikian ia dan keluarganya masih bersyukur bisa selamat.

“Disini ada ade saya 2 orang, yang satu kelas 5 SD satunya lagi kelas 1 SMA,” ucapnya. Ia menyebut jika kedua adiknya hingga saat ini belum masuk sekolah karena tidak ada seragam sekolah. “Kalau ade saya yang SD itu tadi gurunya udah datang kesini, tapi kalau yang di SMA 2 itu gurunya belum ada yang datang dia juga baru aja masuk SMA tahun ini,” jelasnya.

Sementara itu di pengungsian sendiri untuk kamar mandi seluruh pengungsi harus mengantri mengingat kamar mandi dan toilet yang terbatas. “Kalau untuk makan mereka, kami dari tagana bergantian memasak disini,” ucap Yunina yang saat itu mendapatkan giliran memasak. Ia menyampaikan jika mereka para tagana juga di bantu oleh relawan mahasiswa yang berasal dari IAIN Palangka Raya. “Kami memasak, yang bantu membungkus dan mencuci alat masaknya ini mahasiswa,” tuturnya.

Di tempat yang sama juga ada Reza salah satu relawan yang membantu disana. Ia mengaku jika ia cukup iba dengan para korban kebakaran tersebut sehingga ia dengan beberapa rekannya datang untuk membantu. “Kami bantu-bantu tenaga saja disini, kalau ada yang bisa di bantu ya kami bantu mau itu memasak ataupun membagikan makanan pada para korban,” terangnya.

Wali Kota  Raya, Fairid Naparin melalui Lurah Kelurahan Langkai Kota Palangka Raya Sriwanti menjelaskan Pemerintah Kota Palangka Raya sudah memberikan bantuan kepada korban kebakaran. Bantuan yang diberikan berupa pakaian, pakaian dalam, dot bayi.

“Jadi bapak Wali Kota Palangka Raya sudah memberikan uangnya kepada kami tadi malam. Sehingga kami langsung membelikan barang untuk para korban kebakaran,” ucapnya pada media, Rabu (2/8).

Sriwanti menambahkan, sebanyak 70 orang yang mengungsi di GOR Futsal Kompleks Sanaman Mantikei. Di sana, masyarakat yang terkena dampak kebakaran dapat beristirahat, bermain, dan menenangkan hati serta pikiran.

“Total itu sebanyak 180 jiwa yang rumahnya terbakar. Yang disini sebanyak 70 orang, sisanya ke tempat keluarganya masing-masing dan ke tempat tetangga,” jelasnya.

Salah satu warga yang rumahnya terkena kebakaran, Diah menjelaskan masih trauma dengan kejadian kebakaran itu. Sehingga untuk rencana ke depan masih belum tahu mau bagaimana.

“Waktu kebakaran kemarin, saya langsung menyelamatkan diri. Saya membawa anak beserta cucu untuk keluar dari rumah. Saya bawa badan aja, barang-barang tidak sempat saya evakuasi. Barang-barang habis terbakar tidak ada yang tersisa,” kata ibu berusia 51 tahun tersebut.

Diah menyebutkan, para pengungsi mendapatkan bantuan berupa selimut, pakaian, dan bantuan kesehatan. “Untuk bantuan kesehatan, kami diberikan vitamin dan obat tensi darah. Mungkin karena shock, tekanan saya berada di angka 150,” jelasnya.

Diah menuturkan, pada saat kebakaran langsung memberikan kabar kepada keluarga. Khusus nya suami.

“Langsung telepon suami saya yang berada di Pangkalan Bun. Dan pagi ini, beliau datang dan langsung ketemu dengan saya,” kata ibu yang berasal dari Amuntai, Kalimantan Selatan.

Dihari yang berlainan, penjaga posko kesehatan UPTD Puskesmas Marina Permai, Susi menyampaikan dalam posko kesehatan, tersedia obat-obatan yang standar diperlukan oleh keluarga. Seperi obat flu, batuk, sakit kepala, vitamin, dan juga tersedia tes tensi tekanan darah.

“Masyarakat yang ingin berobat, atau ada pegel-pegel di tubuh, dan keluhan lainnya. Mereka biasanya datang ke kami,” ungkapnya saat diwawancarai Kalteng Pos, Kamis (3/8)

Dalam melayani kesehatan masyarakat, posko kesehatan Puskesmas Marina Permai mempunyai dua shift. Shift jam pertama itu dari pukul 09.00 WIB hingga 13.00 WIB, sedangkan fi jam kedua itu pada pukul 13.00 WIB hingga 20.00 WIB.

“Kami ini sifatnya pelayanan dasar. Ya seperti penyakit sehari-hari keluarga lah ya. Kalau memang ada keluhan dan kami tidak bisa menangani nya, itu kami langsung bergerak cepat mengantarkan ke rumah sakit,” ujarnya

Sampai dengan hari ini, jumlah korban terdampak sebanyak 48 kepala keluarga dengan rincian sebanyak kurang lebih 180 jiwa dan 36 bangunan yang terkena kebakaran. Untuk data yang lebih rinci, masih belum dapat dijabarkan. Karena masih dalam tahap pengelompokkan. (ham/zia/ala/kpfm)

91 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.