Terkendala Irigasi, Petani Butuh Pendampingan

FOOD ESTATE

PALANGKA RAYA – Desa Pilang merupakan salah satu desa di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang menjadi lokasi pengembangan proyek strategis nasional (PSN) food estate atau lumbung pangan. Sayangnya, penggarapan lahan food estate di desa itu terkendala. Para petani masih mengeluhkan soal irigasi dan minimnya dampingan teknis terkait cara bertanam di sawah. Selain itu, hama tanaman juga masih menggerogoti lahan pertanian.

Kepala Desa Pilang, Rusdi menceritakan, food estate di wilayahnya itu sudah dalam masa persemaian benih padi. Para petani masih terus melakukan pembersihan lahan. Sekitar Maret 2024 diperkirakan akan dimulai proses penanaman. Namun ada sejumlah kendala yang dihadapi dalam proses penggarapan lahan itu. Salah satunya adalah kehadiran hama tanaman.

“Tak hanya itu, dari segi sumber daya manusia (SDM), masyarakat masih butuh pendampingan, karena terus terang kami termasuk baru mengenal sistem bersawah setelah ada food estate ini, kan sebelumnya tidak seperti ini,” ungkap Rusdi kepada Kalteng Pos saat diwawancarai di Palangka Raya, Minggu (11/2).

Tak hanya itu, Rusdi menyebut sistem pengairan atau irigasi sawah food estate di desa setempat belum tepat. Lahan persawahan sering kebanjiran saat diguyur hujan dengan intensitas tinggi atau terdampak bencana banjir.

“Kalau air dari hulu dalam, di desa hujan, maka sawah akan tergenang beberapa hari, kalau sudah tergenang, apalagi padinya baru ditanam, pasti akan ada lumut sewaktu air surut, sehingga padinya rusak, itu kami alami awal tahun 2023 sewaktu musim hujan,” ungkapnya.

Rusdi berharap proyek strategis nasional ini tetap berlanjut. Namun infrastruktur pendukung dan SDM perlu diperkuat agar para petani mampu menggarap lahan dengan metode yang tepat. Infrastruktur pendukung mencakup saluran irigasi, penataan lahan, dan teknis penggarapan sawah secara terperinci. “Untuk itu, tenaga pendamping perlu diperkuat,” ucapnya

Rusdi mengakui sudah ada penyuluh pertanian lapangan (PPL) di Desa Pilang. Namun pihaknya berharap PPL yang ditempatkan benar-benar menguasai hal-hal teknis bidang pertanian.

“PPL yang ada sekarang bagus, mereka aktif melakukan pendampingan dan mendengarkan keluhan kami, hanya saja dari segi teknis pendampingan untuk mengelola sawah yang benar, masih kurang,” ujarnya.

Pihaknya membutuhkan PPL yang dapat membantu secara rinci terkait teknis menanam padi di sawah, karena para petani sebelumnya tidak pernah menerapkan pertanian dengan sistem tersebut.

“Sebelum pembukaan lahan, kami melakukan penyemaian bibit, sebelum penyemaian bibit ini apa yang mau dilakukan, menyebar pupuk dahulu atau racun tikus. Simpelnya, apa yang perlu dilakukan sebelum dan setelah penanaman, panduan-panduan teknis seperti itu yang dibutuhkan petani,” jelasnya.

Lebih lanjut Rusdi mengatakan, karena belum memiliki panduan teknis bertani sawah, untuk sementara para petani melakukan penggarapan sawah dengan berdasarkan kearifan lokal desa setempat. Para petani melakukan percobaan demi percobaan, belajar bertani sawah dengan prinsip trial and error.

“PPL yang ada sekarang sudah bagus, cuman kami butuh PPL yang lebih mendalam lagi ke teknis pertanian, rincian penanamannya dan lain-lain,” tuturnya.

Rusdi mengaku, irigasi atau pengaturan air bahkan tidak ada pada sawah-sawah food estate di desa setempat. Ketika air pasang, sawah akan terendam begitu saja karena tidak ada sistem irigasi yang baik.

“Kalau untuk inisiatif dari warga pasti ada, cuman kami belum dapat petunjuk yang jelas soal pengairan di lahan sawah ini, sebelah mana yang bisa dibuat jadi tempat pengairan, itu yang menjadi kendala kami,” terangnya.

Sejauh ini para petani belum memahami cara yang tepat mengatur pengeringan air, cara menahan air agar tidak surut, dan ketika mengatur air yang dalam. “Ketika air dalam masuk semua, pun ketika air surut turun semua airnya, enggak ada semacam sekat-sekat atau penahan,” ucapnya.

Ia mewanti-wanti agar para petani tidak mengalami lagi kegagalan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Kegagalan terus-menerus itu akibat tidak adanya pendampingan teknis bagi para petani dalam menggarap lahan sawah.

“Jangan sampai tiga kali gagal, sudah gagal dua kali, 2022 dan 2023, gagalnya karena sistem pengairan dan penanganan hama, kemudian kekompakan dari petani juga masih kurang, karena masih ada lahan-lahan pertanian yang tidak dikelola,” tuturnya.

Kendati demikian, masyarakat desa setempat masih semangat untuk menggarap lahan sawah yang ada. Pihaknya sudah pernah mencoba menanam dengan sistem manugal di atas lahan sawah itu, dengan mendatangkan benih dari Katingan. Sayangnya, setelah ditanam dan tumbuh, diserang burung dan tikus.

“Kalau untuk berhasil sih belum, tapi memang ada yang sudah menghasilkan beberapa karung, hamanya terlalu banyak, kemudian sistem pengairannya pun masih jadi kendala,” ucapnya.

Rusdi menyebut, terdapat 300 hektare (ha) lahan ekstensifikasi food estate yang sudah digarap dari 390-an ha (hampir 400-an ha) lahan yang dibuka untuk program food estate di Desa Pilang. (dan/ce/ala/kpfm)

36 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.