Indonesia Inventors Day: Ada Sepatu Khusus Diagnosis Gula Darah tanpa Sayatan

Anisa Faras Amalia (kanan), mahasiswi semester V Prodi ilmu keperawatan FK Undip, bersama tiga rekannya berhasil menciptakan sepatu khusus penderita diabetes. Foto: Mesya/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA – Indonesia Inventors Day terdiri dari The 6th International Young Inventors Award (IYIA) dan The 2th World Invention Technology Expo (WINTEX) resmi dibuka hari ini, Rabu (9/10). Iven yang digelar hingga 12 Oktober di Taman Mini Indonesia Indah itu diikuti 18 negara dengan jumlah inovasi 250 karya dari Indonesia maupun internasional.

Menurut Erricha Insan Pratisi, presiden of Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA), dibanding 2018, ada penurunan jumlah peserta. Tahun lalu yang ikut ada 317 tim dan full kompetisi. Namun, tahun ini lebih lengkap karena para peserta dipertemukan dengan kalangan industri dan startup, diperkenalkan tentang hak paten, kekayaan intelektual, serta lainnya.

“Yang kami harapkan dari Indonesia Inventors Day ini para inovator muda tidak hanya berhenti sampai meraih medali dan karyanya dipajang di etalase. Kami ingin karya inovasi mereka bisa dipasarkan dan dipatenkan hasil karyanya sehingga mereka menjadi entrepreneur muda,” terang Erricha di sela-sela pameran, Rabu (9/10).

Dia juga berharap, lewat ajang ini bisa mengubah image Indonesia yang tidak hanya dikenal sebagai negara konsumtif tetapi bisa menciptakan produk unggulan dari inovator-inovator muda.

Dari ratusan karya inovasi tersebut, ada hasil riset dari mahasiswa Universitas Diponegoro yang menarik. Anisa Faras Amalia, mahasiswi semester V Prodi ilmu keperawatan Fakultas Kedokteran Undip, bersama tiga rekannya berhasil menciptakan sepatu khusus penderita diabetes.

Dengan menggunakan sepatu khusus ini, penderita bisa mendeteksi sendiri kadar gula darahnya. Seperti diketahui, diabetes ada pembunuh nomor tiga di Indonesia setelah pembuluh darah dan jantung.

“Jadi di telapak kaki sepatunya ada sensor yang bisa memancarkan cahaya infra merah untuk gula darah. Untuk menjaga kelembapan kaki agar tidak iritasi, alasnya kami gunakan bahan kulit sapi,” terang Anisa.

Dia menyebutkan tingkat keakuratan deteksi gula darahnya 96,79 persen. Begitu disandingkan dengan pengujian tes gula darah metode sayatan hasilnya sama. Pengujian ini dilakukan selama sebulan di laboratorium FK Undip. Sedangkan untuk menciptakan sepatu khusus penderita diabetes makan waktu tiga bulan.

“Sepatu ini kami desain sendiri. Harganya Rp 450 ribu. Kalau inovasi ini dihilirisasi, harganya pasti lebih murah,” ucap gadis berjilbab ini.

Dia menambahkan, sengaja memilih sepatu karena kebanyakan penderita diabetes paling malas menggunakan alas kaki ketika beraktivitas. Biasanya tanpa mereka sadari kakinya tertusuk benda tajam dan tidak dirasakan. Baru mereka sadar ketika luka kakinya tidak sembuh-sembuh.

“Sesuai pengalaman saya saat pengabdian masyarakat, penderita diabetes tidak pernah merasakan sakit kalau ada luka. Makanya kami bikin sepatu khusus biar mereka bisa pantau setiap saat kadar gula darahnya,” tutupnya.(esy/jpnn)

9 Views

About The Author

Related posts