PAS Momentum Menguji Kemampuan Peserta Didik

UJIAN HARI PERTAMA: Murid SDN 6 Palangka ketika mengikuti ujian semester tahun ajaran 2022/2023, Senin (5/12).

PALANGKA RAYA-Akhir semester 1 tahun ajaran 2022/2023 telah tiba. Sekolah-sekolah melaksanakan penilaian akhir semester (PAS) sebagai evaluasi atas capaian belajar peserta didik selama enam bulan. Salah satu sekolah yang melaksanakan PAS adalah SDN 6 Palangka.

Senin (5/12), merupakan hari pertama sekolah tersebut melaksanakan PAS. Hari itu, murid kelas I hingga kelas VI mengikuti ujian dua mata pelajaran, yakni Agama dan Tema 1.

Kepala Sekolah SD Negeri 6 Palangka Bayer SPd mengatakan, penilaian akhir semester tersebut dilaksanakan selama lima hari ke depan, terhitung hingga Jumat (9/12).

“Karena full day school, maka hanya ada lima hari sekolah, Senin sampai Jumat. Selama lima hari itu sekolah kami melaksanakan PAS,” kata Bayer kepada Kalteng Pos, Senin (5/12).

Semua mata pelajaran yang didapatkan peserta didik selama enam bulan, diuji selama lima hari. Terdiri dari pelajaran Agama, Tema 1, Matematika, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK), Tema 2, Mulok (Bahasa Daerah), Tema 3, Tema 4, dan Bahasa Inggris untuk murid kelas IV, V, dan VI. Pelajaran Agama, Tema 1, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK), Tema 2, Mulok (Bahasa Daerah), Tema 3, Tema 4, dan Bahasa Inggris untuk kelas rendah, yang terdiri atas kelas I, II, hingga III.

“Semua pelajaran diujikan sebagai bentuk evaluasi, yang kami evaluasi itu tentunya yang kami ajarkan selama ini,” bebernya.

Semua mata pelajaran itu, lanjut Bayer, diujikan dalam bentuk tertulis. Terdiri atas soal pilihan ganda, isian, dan esai.

“Kami juga mempertimbangkan jumlah soal yang diberi. Kelas rendah berbeda dengan kelas atas (kelas IV hingga VI). Kuantitas soalnya dibedakan. Kelas rendah lebih sedikit soalnya. Namun secara umum sama. Ada pilihan ganda, isian, dan esai,” ungkapnya.

Pelaksanaan PAS ini, kata Bayer, tak hanya sebagai evaluasi belajar selama enam bulan, tapi juga dapat menjadi penentu kenaikan kelas peserta didik. Hasil ujian itu akan dimasukkan dalam rapor.

 “Ujian ini memang untuk mengevaluasi. Sebelumnya sudah diadakan ujian tengah semester. Itu dilakukan untuk mengevaluasi capaian belajar peserta didik selama tiga bulan. Jadi guru mengevaluasi anak didiknya, kemudian orang tua juga bisa mengevaluasi anaknya berdasarkan hasill ujian semester. Kemudian setelah dievaluasi, akan dilakukan perbaikan pada semester berikutnya. Nah, dengan begitu kami bisa melihat capaian belajar anak didik, selanjutnya bisa kami sesuaikan dengan target-target belajar ke depan,” jelasnya.

Lebih lanjut Bayer mengatakan, setelah ujian akhir semester dilaksanakan, pihaknya akan melaksanakan remedial bagi peserta didik yang belum mendapatkan nilai memuaskan selama ujian yang dilaksanakan pekan ini.

“Jadi setelah ini akan dilihat hasil ujian mereka. Kalau guru menilai masih kurang, mencakup nilai pekerjaan rumah dan nilai ulangan tengah semester, nanti akan ada remedial, supaya mereka bisa mendapat nilai yang sama dengan teman-temannya, akan sangat terbantu dengan mengikuti remedial,” bebernya.

Kalaupun setelah mengikuti remedial, tapi nilai yang didapatkan masih kurang memuaskan, lanjut Bayer, maka akan diambil nilai keseharian murid bersangkutan selama sekolah. “Karakternya kan dinilai. IQ-nya mungkin kurang karena dia bisa tidak tuntas, tapi karakternya, sopan santunnya juga jadi penilaian, itu akan membantu menaikkan nilai,” ucapnya.

Lantas apakah ada murid yang tidak naik kelas pada tahun ajaran lalu karena nilai yang tidak mencapai standar? Menurut Bayer, hal seperti itu jarang terjadi. Dikatakannya, dalam penerapan Kurikulum 2013, peserta didik tidak boleh tidak naik kelas alias harus naik kelas. Sebab, instrumen penilaian yang menjadi pertimbangan kenaikan kelas tak hanya pada nilai ujian. “Jarang, kalau K13 ini, setahu saya tidak boleh peserta didik tidak naik kelas,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana PAS SDN 6 Palangka sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Sunarti SPd menambahkan, dalam penerapan K13, terdapat tiga instrumen penting penilaian yang menjadikan peserta didik akan tetap dinaikkan meski mendapat nilai rendah dalam ujian. Instrumen penilaian tersebut terdiri atas nilai sikap, nilai pengetahuan, dan nilai keterampilan.

“Dalam K13 ini pada prinsipnya semua peserta didik harus naik kelas. Ada ranah penilaian. Dalam K13, prinsip penilaiannya terbalik dari KTSP 2006. Kalau KTSP, pengetahuan itu nomor satu, menyusul keterampilan, lalu sikap. Nah, kalau K13 dibalik. Sikap yang pertama, lalu kedua pengetahuan, dan ketiga keterampilan,” jelasnya.

Menanggapi soal pelaksanaan PAS di sekolah-sekolah, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya Jayani mengatakan, ujian akhir semester merupakan bagian dari proses pembelajaran dengan dilakukannya penilaian pada tiap jenjang pendidikan. Dengan adanya ujian tersebut guru dapat mengakumulasi nilai untuk penentuan kenaikan kelas peserta didik.

“Ini juga sudah akhir semester ganjil, memang saatnya melaksanakan ujian untuk mengevaluasi capaian belajar peserta didik,” ucapnya kepada Kalteng Pos, Senin (5/12).

Penentuan kelulusan memang lebih dititikberatkan pada pelaksanaan PAS semester genap yang akan dilaksanakan Mei hingga Juni tahun depan. Namun, rapor hasil PAS semester ganjil ini juga memberi sumbangsih bagi penentuan kelulusan peserta didik di semester genap nanti. Karena itu ujian ini perlu diikuti secara serius oleh para peserta didik.

Jayani berharap soal-soal ujian yang diberikan kepada peserta didik merupakan soal-soal bermutu, sebagai bahan evaluasi capaian belajar. “Diharapkan soal-soal yang diujikan bermutu ya,” ucapnya.

Menurutnya, PAS merupakan ujian yang dilakukan dalam rangka mengevaluasi belajar para peserta didik selama enam bulan berjalan. Hasil ujian dapat memperlihatkan kualitas pengajaran guru di sekolah selama satu semester. Bagus tidaknya hasil yang didapatkan peserta didik dapat menjadi cerminan kualitas pengajaran yang diberikan para guru.

Karena itu, Jayani menekankan bahwa dalam era merdeka belajar, mutu lembaga pendidikan sangat ditentukan pada kualitas tenaga pengajar. Guru menjadi penentu kualitas sekolah.

“Pencapaian rapor pendidikan sekarang ini kan dilihat dari hasil belajar anak. Kalau hasil belajarnya tidak bagus, berarti gurunya yang disasar, gurunya yang mesti kita tingkatkan kualitas,” tuturnya.

Oleh karena itu, Jayani berpesan kepada para guru agar selalu meningkatkan kualitas diri sebagai seorang pengajar.

“Guru harus punya motivasi dan keinginan yang kuat untuk meningkatkan kualitas diri, kualitasnya sebagai seorang pendidik. Nah sekarang ini kan guru-guru didorong untuk aktif meng-upgrade kualitas masing-masing,” tuturnya.

Selain itu, Jayani juga berpesan kepada orang tua peserta sisik agar intens memantau perkembangan belajar anak masing-masing.

“Kami imbau orang tua/wali murid untuk ikut memperhatikan ritme belajar anak. Kami dorong orang tua untuk memperhatikan pola belajar anak masing-masing, bantu untuk tingkatkan mental anak dalam belajar,” tandasnya. (dan/ce/ala/ko)

158 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.