Fenomena Disrupsi Fungsi dan Vuca di Sekolah

Oleh: Razikinnor Penulis adalah Guru/Kepala SMA Negeri 1 Muara Teweh

TANPA disadari sejak awal tahun 2020 kita telah memasuki era disrupsi, dunia seperti pesawat yang mengalami turbulensi hebat akibat tekanan disrupsi maksimum, pemicu utama adalah munculnya pandemi Covid-19. Kondisi yang kemudian memicu disrupsi hebat, pola hidup manusia mengalami berbagai penyesuaian secara ekstrem, suka atau tidak kita harus mengikutinya, dan mulai membiasakan kebiasaan-kebiasaan “baru” yang bisa dengan segera menjadi “tidak baru”.

Selain disrupsi, era sekarang juga adalah era Vuca, yaitu lingkungan Vuca yang terbentuk salah satunya oleh disrupsi atau pengganggu. Pada penyelenggaraan sekolah, pandemi Covid-19 yang lalu telah memberikan kejutan luar biasa bagi dunia secara global. Seketika segalanya berubah dari tatap muka menjadi online. Sehingga dalam waktu singkat begitu banyak kebijakan, strategi dan model pembelajaran dilaksanakan tanpa uji coba.

Hal tersebut telah menjadi tantangan nyata yang dihadapi dalam penyelenggaraan sekolah di Indonesia di saat itu. beserta alternatif untuk mengatasinya. Istilah disruptive atau disrupsi dicetuskan pertama kali pada tahun 1995 dan diperkenalkan oleh oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel “Disruptive Technologies: Catching the Wave” di jurnal Harvard Business Review (1995).

Teori disrupsi sejak awal diorientasikan untuk kepentingan sektor bisnis, namun disituasi kekinian ternyata tidak ada satu sektor pun yang tidak terdampak disrupsi. Pembahasan disrupsi yang orientasi awalnya hanya pada sektor bisnis pada perkembangannya juga merambah sektor publik. Sektor pendidikan dalam hal ini sekolah sebagai salah satu sektor publik juga terdampak. Sejak tahun 2020 permasalahan pandemi Covid-19 ternyata telah memicu disrupsi model baru.

Salah satunya adalah disrupsi fungsi sekolah yang menunjukkan terganggunya fungsi sekolah dalam melaksanakan penyelenggaraan pendidikan, sehingga mengharuskan sekolah melakukan penyesuaian dalam pola penyelenggaraan sekolah.

Istilah Vuca adalah akronim, pertama kali digunakan pada tahun 1987 dan didasarkan pada teori kepemimpinan Warren Bennis dan Burt Nanus (1998). Awalnya Vuca adalah tanggapan dari US Army War College atas runtuhnya Uni Soviet di awal 1990-an, US Army secara tiba-tiba, tidak ada lagi musuh satu-satunya, kondisi yang menghasilkan cara pandang dan reaksi baru.

Kondisi baru ini menghasilkan situasi yang bergejolak, tidak bisa diprediksi, kompleks dan tidak jelas. Karenanya kondisi itu dikatakan sebagai Vuca akronim atau singkatan dari Volatility (perubahan dinamika yang sangat cepat), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas gangguan), dan Ambiguity (keadaan yang terus mengambang).

Pada organisasi sektor publik seperti sekolah, contoh mudah dari sekolah yang berada di lingkungan Vuca adalah ketika pengelolaan dan pelaksanaan dan penyelenggaraan layanan pendidikan di sekolah terasa berbeda, disaat proses manajemen berjalan lebih sulit, manajemen sekolah kesulitan menyusun rencana, manajemen sekolah kesulitan mengambil keputusan, semua warga sekolah sulit beradaptasi dengan kondisi yang ada dan manajemen serta seluruh warga sekolah kesulitan menemukan inovasi baru dalam rangka menyelesaikan suatu persoalan.

Jika kondisi seperti itu terjadi di sekolah, maka bisa dipastikan bahwa sekolah itu berada di dalam lingkungan Vuca. Pada konteks situasi terkini disaat sekolah ditekan disrupsi sebagai akibat gangguan yang ditimbulkan oleh pandemi berkaitan langsung pada fungsi sekolah sebagai penyelenggara pendidikan. Posisi sekolah pada situasi disrupsi fungsi itu akhirnya berimbas terbentuknya lingkungan Vuca yang ekstrem di sekolah.

Memang permasalahan terbentuknya lingkungan Vuca ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan terjadi di seluruh dunia, bahkan pada semua bidang. Sektor publik seperti sekolah, sektor bisnis, tidak ada yang bisa terlepas dari Vuca, karenanya Vuca menggambarkan dengan sempurna apa yang terjadi di dunia secara global saat ini, terutama pascapandemi.

Vuca telah mengubah lingkungan sekolah, dan menjadi norma baru dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Kondisi apa yang ada pada pelaksanaan pendidikan, menjelaskan bagaimana fenomena Vuca terjadi.

Volatility merupakan kondisi penuh gejolak ditandai dengan keadaan sekolah yang tidak menentu serta rentan terhadap terjadinya perubahan. Semua elemen sekolah harus siap dengan berbagai perubahan. Disrupsi telah menjadikan sekolah masuk ke lingkungan volatility yang ditandai dengan situasi mudah berubah.

Uncertainty, suatu keadaan ketidaktentuan, ketidakpastian atau keadaan yang penuh dengan kejutan yang dapat terjadi kapan saja adalah situasi yang menggambarkan adanya uncertainty. Kondisi ketidakpastian ini akhirnya akan berimbas pada penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Complexity, diartikan sebagai keruwetan atau kerumitan atau kompleksnya gangguan.

Dalam bidang pendidikan, khususnya penyelenggaraan sekolah, di lingkungan Vuca lebih ruwet dan komplek serta bersifat universal. Mulai dari kemampuan guru di bidang IT, sarana prasarana, apakah siswa memiliki gadget, apakah ada paket datanya? bagaimana kualitas jaringan, dan bagaimana dengan kecepatan koneksi internetnya?, pertanyaan-pertanyaan itu hanya sebagian kecil masalah yang harus dicarikan solusinya agar pelaksanaan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, semua permasalahan itu serentak memerlukan penyelesaian.

Ambiguity, didefinisikan sebagai keadaan yang mendua atau mengambang, tidak jelas, sehingga menyebabkan kebingungan dalam memahami arah dengan jelas. Pada masa pandemi COVID-19, ambigu benarbenar terjadi. Contohnya adalah kebijakan pemerintah yang sering berubahubah dan implementasinya yang membingungkan sebagian publik. Dalam hal ini tentu dapat dipahami bukanlah kesalahan pemerintah melainkan akibat dari ambigunya situasi. Di tengah berbagai kesulitan itu, bagaimanapun sekolah harus berjuang untuk tetap bertahan dan selaras dalam sifat Vuca tersebut, karena jika diabaikan maka hal itu akan berpengaruh secara signifikan pada kualitas layanan pendidikan yang di laksanakan dan pada gilirannya akan berpengaruh kepada kualitas  sumber daya manusia (SDM) yang kita miliki.

Sekolah yang mengabaikan Vuca, diibaratkan seperti katak di atas wajan yang dipanaskan. Ketika api dinyalakan, katak akan terus diam di atas wajan selagi belum merasa panas. Ketika sudah panas dan belum ada reaksi maka katak tersebut akan mati terpanggang. Kesiapan dalam menghadapi era Vuca itu bukan hanya tanggung jawab satu orang saja, melainkan juga seluruh tim di sekolah termasuk semua pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan sekolah tersebut.(*/kpfm)

253 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.