Perpustakaan Adalah Rumah Keduanya

Viola Angelia Mahareta, Mahasiswi yang Gemar Membaca Buku

KUTU BUKU : Viola Angelia Mahareta, memilih perpustakaan menjadi tempat menghilangkan kebosanan.

Ada yang bilang, membaca buku itu kegiatan yang membosankan. Namun, tidak bagi Viola. Bagi perempuan berusia 22 tahun itu, membaca merupakan sarana penghibur diri.

AKHMAD DHANI, Palangka Raya

“Biasanya kalau overthinking, pikiran ke sana kemari, atau lagi gabut, saya lari ke buku,” kata Viola mengawali obrolan dengan penulis di Toko Buku Cangkir Pustaka, Sabtu (18/2).

Pembawaan dari pemilik nama lengkap Viola Angelia Mahareta itu begitu ramah. Di pun begitu terbuka ketika menceritakan  awal mula cinta akan membaca buku sampai ketagihan berkunjung di perpustakaan.

“Saya menganggap perpustakaan sebagai rumah kedua. Bahkan kalau dipikir-pikir, saya lebih sering ke perpustakaan untuk sekadar membaca atau mengerjakan tugas-tugas kuliah dibanding di rumah,” tutur wanita yang saat ini menempuh kuliah semester delapan di Program Studi Kehutanan Universitas Palangka Raya (UPR) itu.

Seonggok novel dan buku-buku referensi berkaitan dengan bidang ilmu yang saat ini ia tekuni kerap dipinjamnya dari perpustakaan daerah. Bagi anak pertama dari dua bersaudara itu, kegiatan membaca bukanlah sesuatu yang membosankan, justru merupakan hiburan yang menyenangkan.

Novel bergenre romansa menjadi bacaan favoritnya. Tidak disebutkannya nama novel secara rinci dan nama penulis kesukaan, namun ia memastikan, jika ia melihat novel bagus yang dinilai dari cover dan sinopsis, maka ia akan meluangkan banyak waktunya untuk membaca novel tersebut.

“Enggak ada novel atau nama penulis tertentu sih yang saya sukai, tapi kalau saya lihat buku itu sinopsisnya bagus, maka akan saya pinjam untuk dibaca,” ungkapnya.

Karya fiksi terakhir yang dibaca olehnya adalah ‘Angel: Kisah Seorang Gadis dan Pria Tampan Jelmaan Malaikat Maut’ karangan Ashara. Seperti judul, novel ini berkisah tentang cinta terlarang antara seorang gadis dan pria tampan jelmaan malaikat maut. Menurut Vio, novel itu mempertemukan sisi logika dan mistik yang asyik dan segar. Tentang sisi manusiawi dari malaikat maut. Warna sampul yang gelap dan gambar misterius punya daya tarik sendiri baginya terhadap novel ini.

“Biasanya kita tahu malaikat itu didefinisikan sebagai perempuan, tapi di novel ini itu malaikat malah laki-laki tampan. Kalau baca novel ini bisa buat kita berimajinasi seakan kita yg di posisi perempuan di novel ini,” tuturnya.

Kesukaannya membaca buku, wabil khusus novel, murni karena ingin mencari hiburan di kala suntuk atau mengisi waktu luang. Baginya, membaca buku bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana mengasah imajinasi dan memperkaya diksi. Membaca merupakan hobi yang kaya akan manfaat dan dijalankannya dengan rasa senang.

Wanita muda itu juga mengaku sering membaca buku pengembangan diri, namun bukan buku pengembangan diri untuk meniti karier atau melakukan pekerjaan tertentu, tetapi untuk mengembangkan diri dalam upaya menjalin hubungan serius dengan orang lain. “Kan ada tuh buku-buku pengembangan diri, tapi bukan yang motivasi, tapi lebih ke menjalin relasi serius dengan orang lain, gitu,” tutur wanita kelahiran 16 Maret 2001 itu.

Buku terakhir yang ia baca bertemakan itu adalah ‘Every Word You Cannot Say, Tentang Mencintai & Memaafkan Diri Sendiri’ karya Iain S Thomas. Menurutnya, buku itu mengajarkan tentang bagaimana seseorang mampu mencintai dan memaafkan diri sendiri.

Tidak perlu takut dengan pendapat dunia luar tentang diri sendiri, karena yang lebih mengetahui diri sendiri ya seseorang itu sendiri. Ibaratkan diri sendiri itu lagu yang dinyanyikan oleh semesta. Karena, lanjutnya, pada akhirnya seseorang tetap menunjuk ke hati, diri, dan apa yang sebenarnya dibutuhkan itu sudah ada di diri kita sendiri selama ini. “Terkadang kita juga memiliki harapan kalau kita harus dicintai orang lain sebaik mungkin, tanpa kita sadari juga itu justru membuat kita terluka dengan ekspektasi kita sendiri,” tuturnya.

Dari buku itu ia juga belajar bahwa kebanyakan orang memulai hubungan dipengaruhi oleh masalah kepercayaan (trust issue). Sebenarnya, lanjutnya, kalau seseorang ingin menjalani hubungan serius, maka ia harus berbenah diri agar tidak mengalami masalah saling percaya.

Berbenah diri yaitu dengan menyadari kekurangan, lalu menyembuhkan sendiri.

“Karena setelah baca buku ini, dia menyadari juga bahwa pasangan itu tidak bisa menyembuhkan luka hati kita karena diri kita punya trauma. Yang bisa nyembuhin trauma kita, diri kita sendiri,”bebernya.

“Seperti yang aku bilang, kita enggak bisa meminta orang seperti apa yang kita mau,” jelasnya. Buku ini termasuk untuk pendewasaan diri juga,” tambahnya.

Semakin menua usia, Vio mengaku lebih banyak membaca buku bergenre non-fiksi. Selain karena tuntutan tugasnya saat ini sebagai mahasiswi kehutanan, ia mengaku juga butuh buku-buku yang dapat berkontribusi mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang lebih baik.

“Buku-buku pengembangan diri itu bisa macam-macam, mulai dari soal pengembsngan kompetensi untuk kerja, mengenal diri sendiri, sampai menjaga dan memulai hubungan serius dengan orang lain,” ungkapnya.

Kesenangan membaca buku lahir sejak ia menempuh pendidikan di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Kala itu, kakak sepupunya menyenangi buku-buku, khususnya novel. Dari melihat kakaknya yang gemar membaca itulah timbul keinginannya untuk membaca. “Saya coba baca-baca buku kakak, eh keterusan, sampai sekarang jadi senang dengan yang namanya membaca,” ungkapnya.

Saat ini Vio tengah menempuh semester akhir perkuliahan di Program Studi Kehutanan UPR. Dosen tengah menanti hasil buah tangannya berupa skripsi dan setumpuk karya ilmiah. Dalam mengerjakan tugas kelulusan itu, ia sering berkunjung ke perpustakaan. Baginya, perpustakaan merupakan gudang referensi.

Wanita kelahiran 2001 itu mengenal perpustakaan daerah sejak ia bersekolah di SMP Negeri 9 Palangka Raya, pertama kali mengunjungi perpustakaan daerah kala ia berada di kelas akhir. Semenjak awal menjalani perkuliahan 2019 lalu hingga sekarang wanita itu mengaku banyak menyibukkan diri untuk mengerjakan tugas di perpustakaan.

Namun, suasana perpustakaan yang semakin nyaman dan lengang membuatnya meniatkan diri untuk berkunjung ke perpustakaan bukan sekadar mengerjakan tugas, tetapi juga membaca buku-buku genre lainnya sebagai kegiatan istirahat di sela-sela mengerjakan tugas.

“Biasanya ke perpustakaan bukan cuman ngerjain tugas, karena suasananya nyaman dan tenang, saya sering istirahat juga dengan baca-baca buku lainnya, kan banyak tuh buku-buku bagus yang menarik dibaca,” tuturnya.

Sedikit banyak wanita kelahiran Palangka Raya itu juga meminjam buku-buku referensi berkaitan dengan bidang ilmu yang ia pelajari saat ini. Namun, ia mengaku perpustakaan daerah saat ini belum menyediakan referensi yang lengkap terkait dengan ilmu yang ia pelajari.

Dia berharap agar perpustakaan dapat menyediakan referensi lengkap dan terbaru. Aktualitas isi buku juga menjadi perhatiannya sebab masih banyak buku-buku lawas yang sudah kurang relevan dengan kondisi zaman.

“Kalau yang saya amati itu kebanyakan buku di perpustakaan lebih banyak bertemakan sosial budaya dibanding sains dan teknologi yang saat ini saya pelajari, ke depannya saya harap perpustakaan dapat menyediakan itu,” harapnya.

Anak pertama dari dua bersaudara itu berpesan kepada semua orang agar senang membaca. “Semua itu kembali ke diri sendiri, membaca itu tidak sulit. Karena yang sulit itu kemauan kita untuk membaca,” tuturnya.

Menurutnya, aktivitas membaca tidak akan membosankan selama seseorang bisa menikmati setiap kata dan tulisan dalam sebuah buku. Membaca juga melatih pola pikir dan menetralkan jiwa dari hal-hal negatif yang membuat tidak nyaman. “Sahabat terbaik kita dalam hidup ini adalah buku, yang tidak pernah akan mengecewakan kita,” tandasnya.(ram/kpfm)

112 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.