Hilirisasi Masih Sekadar Mimpi

Produksi Rotan Kalteng Ratusan Ton per Tahun

POTENSI BESAR: Rotan menjadi primadona bagi masyarakat Kalteng. Namun kurangnya hilirisasi industri menjadi penghambat.

PALANGKA RAYA-Kalimantan Tengah (Kalteng) memang kaya akan potensi sumber daya alam (SDA). Salah satunya rotan. Tiap tahun Kalteng mampu memproduksi komoditas yang termasuk dalam hasil hutan bukan kayu (HHBK) itu hingga ratusan ton. Sayangnya, besarnya potensi tersebut tidak diiringi dengan kemajuan hilirisasi pengolahan bahan mentah rotan menjadi produk setengah jadi ataupun produk jadi.

Berdasarkan data Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalteng, tahun 2021 lalu Kalteng mampu memproduksi 650 ton rotan jenis sega. Daerah penyumbang angka produksi tertinggi adalah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dengan angka produksi 635 ton. Menyusul Katingan yang menyumbangkan 15 ton pada tahun yang sama. (selengkapnya pada tabel)

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dishut Kalteng Agustan Saining melalui Sub Koordinator Kelompok Substansi Pengolahan, Pemasaran, dan PNBP Dishut Kalteng, Much Musa menjelaskan, data produksi rotan itu merupakan yang terdaftar pada sistem aplikasi daring Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan (Sipuhh).

“Data produksi dapat kami monitor dari aplikasi itu, karena rata-rata rotan berada di pinggir sungai, jadi sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, apabila air pasang, maka akan terkendala produksinya,” beber Musa kepada Kalteng Pos saat ditemui di kantornya, Senin (17/7).

Jenis rotan yang sejauh ini didata pihaknya adalah jenis sega. Menurut Musa, rotan jenis sega sangat berpotensi untuk dikembangkan lebih jauh menjadi bahan baku industri furnitur. Menurut data itu, rotan di Kalteng sejauh ini diproduksi dari daerah berstatus hutan tanaman dan hutan alam.

“Rotan Kalteng memang merupakan budi daya dari zaman dahulu. Kami berupaya agar pengelolaannya resmi, sehingga dapat berkontribusi bagi pemasukan negara,” katanya.

Kendati produksi rotan di Kalteng dapat dikatakan berlimpah, tetapi hilirisasi industri rotan hingga kini masih sekadar mimpi. Butuh upaya ekstra. Hal itu disinyalir masih minimnya jumlah pabrik dan terbatasnya investasi produk jadi berbahan baku rotan.

Menanggapi kondisi itu, pemerhati ekonomi Dr Fitria Husnatarina SE MSi menilai perlu ada langkah serentak dan seragam dari berbagai pemangku kebijakan untuk memaksimalkan program hilirisasi industri pengolahan rotan.

“Karena ketika bahan baku muncul, tidak sinkron dengan jalur produksi, dan ketika masuk jalur produksi, mungkin tidak terlalu cocok dengan pasar, kondisi rantai pasok ini memang harus dirangkai dalam bentuk industrialisasi,” kata Fitria kepada Kalteng Pos, Minggu (17/7).

Menurutnya, permintaan terhadap rotan secara global memang cukup tinggi. Namun Kalteng masih belum bisa menjawab tantangan tersebut dengan menyediakan bahan baku maupun kapasitas barang jadi yang sesuai dengan permintaan pasar.

“Ketika persoalan ini dilihat dari kaca mata global, jika kita mau unggul, tidak hanya menyediakan suvenir atau furnitur, hal-hal yang berbau produk konvensional, tetapi juga produk lainnya. Oleh karena itu, diperlukan adanya kawasan industrialisasi rotan dengan blueprint yang matang dan menaungi semua kepentingan,” jelas dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Palangka Raya (UPR) itu seraya mengakui bahwa upaya tersebut tidaklah mudah.

Fitria menilai potensi rotan di Bumi Tambun Bungai sangat menjanjikan untuk prospek bisnis ke depan karena merupakan episentrum bahan baku rotan. Provinsi dengan luas 153.444 km² ini merupakan daerah endemik bagi rotan.

“Penanaman rotan di sini tidak sulit, juga tidak butuh waktu lama untuk memproduksi bahan baku rotan, itulah mengapa Kalteng punya potensi besar untuk pengembangan rotan,” katanya.

Terkait dengan upaya pemerintah saat ini, Fitria mengakui bahwa pemerintah daerah sudah berupaya menggaet investor agar mau berinvestasi di membuka bisnis hilirisasi berbahan baku rotan. Hal itu dapat terlihat dari berbagai event besar yang dilaksanakan pemerintah dengan memamerkan produk-produk unggulan berbahan baku rotan.

“Saya pikir daya ungkit dari event lokal sudah cukup bagus, tetapi upaya tersebut masih kurang, pemerintah harus bisa membawa agar perajin rotan mau memamerkan hasil produksi, tergantung kebutuhan daerah yang dituju, dalam hal ini juga pasar global,” jelasnya.

Tak hanya itu, Kalteng merupakan daerah penyangga bagi ibu kota negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur (Kaltim). Menurut Fitria, saat ini banyak orang yang sudah berbondong-bondong datang ke Kalteng untuk menciptakan inovasi apa saja dari keunggulan daerah, sebagai upaya memperluas lapangan dan peluang kerja.

“Kalau rotan sudah bisa dikembangkan dalam bentuk industrialisasi dan manufakturing, saya yakin kapasitas hilirisasi rotan akan meningkat, tidak hanya ekspor, tetapi juga di dalam negeri Kalteng menjadi episentrum dari bentuk manufakturing,” tandasnya. (dan/ce/ram/kpfm)

170 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.