Tenaga Kesehatan Mulai Kewalahan

AGUS PRAMONO/KALTENG POS
HARUS SEHAT: Petugas medis harus tetap sehat untuk bisa melayani warga. Tampak selah seorang tenaga medis ketika menunjukkan hasil rapid test seorang pasien, beberapa waktu lalu.

Bahaya Pasien Tak Jujur dan Warga yang Tak Sadar Bahaya Covid-19

PERLAHAN tapi pasti. Para tenaga kesehatan di Kalteng mulai kewalahan. Bukannya hanya karena mereka berjuang tanpa henti menolong pasien positif virus Covid-19. Sebagian dari mereka juga merupakan andalan untuk perawatan warga yang sakit di Rumah Sakit atau Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Sementara Pendemi Covid-19 masih terus terjadi. Belum bisa dipastikan kapan akan berhenti? Bahkan jumlah pasien Covid-19 kian bertambah, setiap harinya. Hedeh….

Ketika dengan kondisi yang normal saja masih ada keterbatasan, maka ketika pasien positif Covid-19 terus bertambah, maka makin berat juga beban yang mereka harus tanggung. Sebagai garda terdepan dalam melawan sebaran virus yang belum ada obatnya itu, mereka sangat rentan terpapar. Bukan hanya karena sebagian dari mereka selalu kontak dekat dengan pasien positif. Mereka juga bisa terpapar dari Orang Tanpa Gejala (OTG) yang mereka tangani. Apalagi masih banyak warga yang tidak sadar akan bahaya dari virus ini.

Sekretaris Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalteng yang juga Ketua IDI Kota Palangka Raya dr Tagor Sibarani mengungkapkan keluhan utama para tenaga kesehatan (nakes) selama masa pandemi ini adalah dampak yang berkaitan erat dengan jumlah tenaga medis, khususnya dokter. “RSDS (RS Doris Sylvanus, Red) Palangka Raya saja meminta kepada pemerintah melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng untuk menambah relawan nakes,” beber Tagor dalam wawancara dengan wartawan Kalteng Pos, baru-baru ini.

Padahal penambahan nakes ini menurutnya perlu, karena akan mengurangi manajemen risiko. Sebab untuk mitigasi risiko diantaranya adalah menghitung risiko ketenagaan. Misalnya tentang siklus kerja dan istirahatnya. Belum lagi dukungan sistem alur penanganan, seperti perlengkapan APD dll. Beruntung Pemprov Kalteng serius memberi perhatian kepada para nakes dengan pemenuhan APD yang memadahi. “Sampai sekarang ketersediaan APD mencukupi,” tambahnya.

Dengan kondisi ini dia sangat berharap dukungan semua pihak, termasuk seluruh kabupaten untuk bisa menangani pasien Covid-19 secara mandiri, sehingga tidak terjadi penumpukan di provinsi. Apalagi sejumlah nakes termasuk para dokter juga sudah terpapar. Berdasarkan data per Jumat (18/6) lalu, tercatat satu orang yang positif Covid-19 di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat (Kobar) dan Gunung Mas (Gumas). Berikutnya masing-masing dua orang dari Kapuas dan di Palangka Raya.

Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Palangka Raya Budi Paryanto mengakui tren kasus Covid-19 yang setiap hari selalu ada tambahan. Tentu saja kapasitas perawat di RS swasta mapun pemerintahan sudah mulai kewalahan. Para perawat memang bekerja ekstra, baik yang di RS yang menanganani langsung pasien Covid-19 ataupun yang berada di puskesmas. “Kondisi para perawat secara keseluruhan mengalami kelelahan, selain beban tugas yang bertambah, mental para perawat juga terbebani,” ucapnya kepada Kalteng Pos.

Sementara itu, Direktur RSUD dr Doris Sylvanus (RSDS) Palangka Raya Yayu Indriaty mengakui sudah ada 18 tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19. Kini mereka juga dirawat di rumah sakit yang sama di Jalan Tambun Bungai Palangka Raya. Padahal, sebelumnya mereka-mereka itu tidak bertugas di ruang Isolasi atau tidak pun bertatap muka dengan pasien Covid-19 yang dirawat secara khusus. “Mereka merawat pasien umum atau non Covid-19,” kata Yayu, Sabtu (20/6).

Hasil pengamatan, para nakes yang terjangkit Covid-19 diawali dari nakes yang kontak erat dengan pasien yang masuk melalui IGD. Ketika itu belum diketahui kalau pasien dimaksud positif Covid-19. Lalu, ada kontak erat dengan keluarga, dan ada yang terinfeksi sesama petugas. Namun demikian Yayu menyebut, seluruh nakes sudah dibekali pengetahuan untuk pencegahan infeksi. Prinsip tidak menularkan dan tidak tertular terus diingatkan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir jika berobat ke RSDS.

PASIEN TAK JUJUR

Yayu menambahkan terpaparnya para nakes tersebut disebabkan oleh beberapa hal. Paling dimungkinkan karena adanya pasien yang masuk ke rumah sakit kurang jujur tentang riwayat sakitnya. Atau pasien tersebut sebelumnya secara tidak sadar sudah kontak dengan orang yang positif Covid-19. Padahal ini sangat berbahaya bagi siapa saja. Untuk itulah, dia berharap kejujuran dari pasien. “Kondisi pasien yang tidak mengetahui telah kontak dengan siapa dan dari mana itu yang menjadi kendala para nakes yang bertugas,” ucapnya.

Kepala Bidang Diklat, Pengembangan SDM dan Humas RSDS Palangka Raya Riza Syahputra mengakui, bahwa salah satu kesulitan nakes dalam menangani pasien yakni masih ada pasien yang tidak jujur terhadap riwayat perjalanan. Atau telah memiliki kontak dengan pasien positif. “Memang Covid-19 ini panjang, sudah beberapa waktu lalu hingga saat ini, maka kondisi para perawat kami sudah mulai susut, kemungkinan dalam satu atau dua minggu ini kami akan melakukan rekrutan untuk kali kedua,” tegasnya kepada Kalteng Pos. (kaltengpos/KPFM-101)

299 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.