Barongsai Dimainkan Lintas Suku dan Agama

Melihat Kemeriahan Menyambut Imlek di Palangka Raya

MERIAH: Aksi barongsai memeriahkan malam tahun baru Cina atau Imlek 2574 Kongzili di Vihara Avalokitesvara, Jalan Tjilik Riwut Km 9, Palangka Raya, Sabtu malam (21/1).

Perayaan Imlek 2574 Kongzili di Palangka Raya berlangsung meriah. Setelah hampir tiga tahun vakum akibat pandemi Covid-19, tradisi yang turun-temurun dirayakan masyarakat Tionghoa itu kini dijalankan kembali. Aksi barongsai digelar di halaman Vihara Avalokitesvara.

ANISA B WAHDAH-IRPAN JURAYZ, Palangka Raya

GEMURUH pukulan tambur diiringi kenong dan gemericik ceng-ceng terdengar riuh di Vihara Avalokitesvara, Jalan Tjilik Riwut Km 9, Palangka Raya, Sabtu malam (21/1). Setelah tiga tahun vakum, kesenian barongsai kembali mengiringi pergantian Tahun Baru Cina atau Imlek 2574 Kongzili yang jatuh pada Minggu (22/1).

Dua barongsai jenis fat san berwarna hijau dan mok san berwarna kuning memasuki area atraksi, selepas pelaksanaan ibadah menyambut malam sebelum Imlek, Sabtu malam (21/1). Penonton antusias menyambut kedatangan tim yang akan memainkan barongsai. Ada beberapa laki-laki dan perempuan pemain barongsai dan pemusik. Di antaranya Jimmy, Jeanny, Arfan, Lela, Yepta, Iwan, David, Abida, dan Catur Irawan.

Pelatih barongsai Jimmy Prasetya mengatakan, barongsai merupakan ciri khas kegiatan yang dilaksanakan oleh warga Tionghoa, terlebih pada perayaan Imlek. Terasa kurang meriah tanpa kehadiran barongsai. Seperti perayaan tahun baru pada 2021 dan 2022 lalu akibat adanya pandemi Covid-19.

Tahun ini, atraksi barongsai dipertontonkan kembali, meski tidak semeriah sebelum bencana pandemi. Pada perayaan Imlek di Vihara Avalokitesvara kali ini, hanya ada dua jenis barongsai yang dipertontonkan.

Bukan tanpa alasan. Selama kurung waktu dua tahun belakangan, para pemain mulai berkurang. Ada beberapa pemain yang pulang ke kampung di Pontianak dan Medan. Ada juga yang harus me-refresh gerakan-gerakan dan latihan otot untuk bisa beratraksi kembali. Tak hanya itu, tahun ini para pemain barongsai hanya melakukan atraksi lantai. Berbeda dengan sebelumnya yang menggabungkan atraksi lantai dan di atas meja.

“Dulu kami memainkan tiga hingga empat barongsai, sekarang ini personel makin kurang karena ada yang pulang kampung, beberapa personel harus latihan ulang setelah dua tahun vakum,” kata pria yang biasa disapa Chun-Chun ini.

Ada sembilan orang yang bermain kesenian ini. Empat orang atraksi dan lainnya bermain musik. Pemain barongsai tidak dibatasi hanya untuk warga Tionghoa atau umat Buddha. Siapa saja bisa ikut beratraksi, tanpa memandang latar belakang suku dan agama.

“Di antara pemain barongsai, hanya saya yang warga Tionghoa dan beragama Buddha, selebihnya ada yang beragam Islam dan Kristen, atraksi ini dimainkan oleh pemain dari berbagai suku dan agama,” ucap pria yang lahir di Banjarmasin, 24 Maret 1994.

Sebelum barongsai ditampilkan, terlebih dahulu harus disembahyangkan, baik barongsainya maupun pemain. Untuk barongsai dilakukan pai-pai, sementara pemain melakukan sembahyang sesuai kepercayaan masing-masing.

“Barongsai berlindung di vihara ini, sehingga terlebih dahulu harus disembahyangkan (pai-pai),  memang untuk perawatan khusus tidak ada, tetapi ada tempat khusus untuk menyimpan barongsai ini,” ucap pria yang bermain barongsai jenis mok san.

Para pemain juga tidak semuanya orang lama, ada beberapa pemain baru. Pria yang sejak belasan tahun sudah bermain barongsai ini menyebut, para pemain harus memiliki modal fisik, lantaran permainan ini khususnya pada atraksi cukup menguras energi.

“Cukup menguras tenaga, permainan ini hanya dimainkan maksimal delapan hingga sepuluh menit tiap sesi,” sebutnya.

Sementara itu, Jeanny Franesha yang memainkan alat musik kenong menambahkan, alat musik yang digunakan dalam bermain barongsai sudah paten. Tidak ada penambahan atau pengurangan. Hanya saja musiknya dapat dibuat variasi alias tidak terpaku pada satu alunan musik saja.

“Dalam memainkan musik kami mengikuti kapten selaku pemegang tambur. Sedangkan tambur mengikuti gerakan barongsai,” ucap perempuan yang biasa disapa Phingping ini.

Pemandu barongsai adalah pemain yang berada di posisi terdepan. Pemain di belakangnya harus memiliki fisik yang lebih kuat dan kepekaan yang tinggi.

“Terlebih untuk pemain barongsai jenis mok san, aksinya lebih akrobatik dan bermain tonggak, berbeda dengan jenis fat san yang dalam peragaannya ada skenario, bermain seperti drama,” jelas perempuan berusia 23 tahun itu.

Dikatakannya, persiapan atraksi barongsai tahun ini begitu mepet waktunya karena dimulai Januari. Padalah tahun-tahun sebelumnya, persiapan sudah dilaksanakan jauh-jauh hari.

“Tahun ini atraksi barongsai diadakan lagi, harapan kami tahun depan persiapan lebih matang sehingga pertunjukan barongsai lebih meriah,” tutur adik Chun-Chun ini.

Warga antusias menyaksikan pertunjukan barongsai yang dilaksanakan dalam rangka memeriahkan penyambutan Imlek tahun 2023. “Sudah lama tidak menyaksikan atraksi barongsai semenjak pandemi Covid-19, kali ini saya bersama suami dan anak saya yang berusia 7 tahun datang untuk menyaksikan pertunjukan barongsai,” ucap Fatmah, salah satu warga yang menyaksikan pertunjukan barongsai.

Di antara kerumunan penonton, ada beberapa orang yang mengaku baru pertama kali melihat pertunjukan barongsai. Salah satunya Ridho.

“Saya datang bersama teman-teman, pertunjukan lumayan seru dan menarik ditontot, kami juga sempat berfoto dengan barongsai singa,” ucap warga Barito Utara itu.

Walaupun digelar malam hari, pertunjukan barongsai tetap punya daya tarik bagi masyarakat Palangka Raya. Selain orang dewasa dan kaum muda, anak-anak pun rela menunggu demi menyaksikan kesenian asal Tiongkok tersebut.

Malam itu dua barongsai ditampilkan. Saat pertunjukan dimulai warga yang hadir menyaksikan atraksi itu mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera telepon genggam masing-masing.

Atraksi demi atraksi ditampilkan. Tepuk tangan penonton terdengar riuh saat barongsai melompat dan bergoyang. Beberapa warga keturunan Tionghoa terlihat memasukkan ampao ke dalam mulut barongsai sebagai bentuk apresiasi.

Ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Kota Palangka Raya Romo Sulistio atau biasa disapa Koh Aphin mengatakan, pergantian tahun baru atau Imlek menjadi momentum untuk merekatkan kerukunan antarumat beragama, termasuk antarsuku, ras, dan golongan. Apalagi suku asli Kota Cantik memiliki falsafah huma betang, yang bermakna hidup rukun di tengah keberagaman.

“Kami berharap warga Kota Palangka Raya yang merayakan Imlek atau tidak bisa saling menghormati dan menghargai, sehingga kedamaian hidup bermasyarakat terus terjaga,” ucap pria yang juga menjabat Ketua Perkumpulan Tionghoa Khatulistiwa dan Benua (PTKB).

Malam itu Romo Sulistio memimpin puja bakti yang diikuti umat Buddha yang hadir. Ia menjelaskan, puja bakti pelepasan akhir tahun merupakan ungkapan rasa syukur.

“Selain rasa syukur, kami juga memohon ampun kepada Tuhan atas kesalahan yang dilakukan sepanjang tahun sebelumnya,” tutur Romo.

Menuju 15 menit sebelum pergantian tahun, digelar puja bakti dengan harapan di tahun yang akan datang bisa menjadi lebih baik.

“Kebetulan tahun yang akan datang merupakan tahun kelinci air, kita tahu kelinci punya karakter diam dan lembut, ditambah lagi dengan unsur air, jadi lebih adem, karena itu tahun ini kita harus lebih baik dan lebih semangat dalam menjalani kehidupan,” ungkapnya.

Perayaan Imlek tahun ini oleh umat Buddha di Palangka Raya dikawal personel Polresta Palangka Raya, Pemuda Pancasila, Paguyuban Lembur Kuring, GBB-KT, Banser, PBB Banama KT, Gerdayak, SBI, Sasak Lombok, Asbadata Bawi Dayak, Pemuda Muslim Indonesia, Fordayak, KUDBB KT, Prasabhara, KBSK-Nyalong Pambelum, MABB, Beta Talawang Kodim 1016 PKY, DPW Pemuda Pancasila, PLB Kalimantan, DPW IHB, dan LADN. (*/ce/ala/kpfm)

39 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.