Deteksi Dini Hepatitis

KESEHATAN

Oleh: dr Didin Endah Palupi SpPD

HARI Hepatitis Sedunia (World Hepatitis Day) diperingati saban tahun oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) tiap tanggal 28 Juli. Penetapan peringatan tersebut berdasarkan hari lahir tokoh penemu virus sekaligus pengembang vaksin hepatitis B, yaitu Baruch Samuel Blumberg. Tujuan diadakannya Hari Hepatitis Sedunia adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap penyakit tersebut, sehingga dapat terlibat langsung dalam upaya pencegahan dan penanganan.

Hepatitis merupakan penyakit peradangan hati. Ada lima jenis virus hepatitis – A, B, C, D, dan E. Hepatitis B dan C menyebabkan penyakit kronis pada ratusan juta orang di seluruh dunia, dan penyebab paling umum dari sirosis hati, kanker hati, dan kematian terkait virus hepatitis. Sirosis hari dan kanker hati adalah dua luaran klinis hepatitis kronik yang tidak diberikan terapi dengan tepat.

Sirosis hati merupakan faktor risiko utama terjadinya kanker hati. Kanker hati sendiri merupakan penyakit yang kompleks dengan berbagai kemungkinan penyebab dan berhubungan dengan berbagai faktor risiko. Lebih kurang 70-90% pasien kanker hati memiliki faktor risiko berupa penyakit hati kronik dan sirosis hati, dengan faktor risiko terbanyak adalah virus hepatitis B, virus hepatitis C, serta penyakit hati alkoholik dan non-alcoholic steatohepatitis (NASH).

Virus hepatitis A paling sering ditemukan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, karena berkurangnya akses ke sumber air bersih dan dapat diandalkan serta meningkatnya risiko makanan yang terkontaminasi. Vaksin yang aman dan efektif tersedia untuk mencegah hepatitis A. Sebagian besar infeksi HAV bersifat ringan, dengan sebagian besar orang sembuh sepenuhnya dan mengembangkan kekebalan terhadap infeksi lebih lanjut.

Sebanyak 5% dari seluruh penduduk dunia (kurang lebih 350-400 juta orang) saat ini terinfeksi virus hepatitis B. Sebanyak 75% di antaranya merupakan penduduk Asia (termasuk Indonesia) dan sebagian kecil adalah penduduk negara barat. Di Indonesia, angka pengidap hepatitis B pada populasi sehat diperkirakan mencapai 4,0-20,3%, dengan proporsi pengidap di luar Pulau Jawa lebih tinggi daripada di Pulau Jawa.

Infeksi virus hepatitis C adalah faktor risiko kanker hati yang paling penting di Eropa Barat, Jepang, dan Amerika Utara. Infeksi hepatitis C membutuhkan waktu 10-13 tahun untuk menyebabkan hepatitis kronik, sedangkan untuk menjadi sirosis membutuhkan waktu 20 tahun serta 28-29 tahun untuk menjadi kanker hati.

Imunisasi/vaksin adalah salah satu bentuk upaya transmisi hepatitis B yang diberikan pada saat bayi baru lahir untuk mengurangi risiko penularan dari ibu ke anak. Infeksi hepatitis B kronis dapat diobati dengan agen antivirus. Pengobatan dapat memperlambat perkembangan sirosis, mengurangi insiden kanker hati, dan meningkatkan kelangsungan hidup jangka panjang. Vaksin juga tersedia untuk mencegah infeksi hepatitis E, meskipun saat ini belum tersedia secara luas.  Tidak ada vaksin untuk hepatitis C. Obat-obatan antivirus dapat menyembuhkan lebih dari 95% orang yang terinfeksi hepatitis C, sehingga mengurangi risiko kematian akibat sirosis dan kanker hati.

Mengingat bahaya hepatitis seperti yang dipaparkan di atas, mari kita tingkatkan kesadaran untuk deteksi dini dan melakukan pencegahan terhadap penyakit hepatitis. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Salam sehat. (*/kpfm)

Penulis adalah Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya

159 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.