Kalteng Masih Hujan, Petakan Daerah Berpotensi Banjir

PALANGKA RAYA-Kalimantan Tengah (Kalteng) kerap mengalami anomali cuaca. Karena itu, meski wilayah Kalteng sedang dalam fase kemarau, hujan masih sering terjadi di sejumlah daerah. Berdasarkan kondisi itu, musim kemarau di Bumi Tambun Bungai diperkirakan akan banyak diselingi hujan, meski dengan curah hujan yang relatif lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

Prakirawan cuaca pada Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalteng, Alfandy mengungkapkan, sebagian besar wilayah Kalteng diperkirakan masih akan mengalami hujan dalam sepekan ke depan.

“Masih ada beberapa wilayah yang berpotensi turun hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Untuk tiga hari ke depan, sebagian besar wilayah di Kalteng masih berpotensi turun hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, terkecuali wilayah barat Kalteng seperti Lamandau, Kobar, dan Sukamara yang intensitas hujannya menurun,” beber Alfandy kepada Kalteng Pos, Rabu (19/7).

Kemudian tiga hari berikutnya atau hari keempat hingga keenam, lanjut Alfandy, hujan dengan  intensitas sedang hingga deras berpotensi terjadi di seluruh wilayah utara Kalteng.

“Yang masih berpotensi turun hujan adalah wilayah utara Kalteng ke arah timur laut, seperti Murung Raya, Barito Utara, sebagian Barito Selatan dan Barito Timur, serta Gunung Mas,” ungkapnya.

Alfandy menjelaskan, turunnya hujan pada musim kemarau merupakan anomali cuaca yang disebabkan labilitas atmosfer di langit Kalteng. Labilitas atmosfer ini memicu terjadinya pertumbuhan awan hujan yang disebabkan oleh tekanan udara yang cukup rendah, kelembaban udara yang cukup basah, dan adanya pembentukan konvergensi.

“Hal-hal tersebut yang mendukung peningkatan pembentukan awan konvektif atau awan hujan, sehingga hujan tetap terjadi meski sedang musim kemarau,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketika terjadi anomali cuaca yang menyebabkan turun hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, maka ada potensi terjadi banjir di beberapa daerah karena air sungai meluap.

“Ketika anomali itu menyebabkan hujan yang cukup deras atau berlangsung lama, bisa menyebabkan banjir. Banjir awal bulan ini terjadi akibat gelombang rossby yang menyebabkan penumpukan awan hujan di Kalteng, lalu terjadilah hujan,” tandasnya.

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng tetap mewaspadai adanya potensi banjir di sejumlah daerah rawan banjir. Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng Ahmad Toyib mengakui saat ini Kalteng sedang berada pada musim kemarau yang dipengaruhi oleh anomali cuaca.

“Walaupun ada prediksi BMKG jauh hari sebelumnya bahwa kita mulai memasuki musim kemarau kering pada akhir bulan Juni dan pertengahan Juli, ternyata sampai saat ini di beberapa wilayah masih sering diguyur hujan, baik dengan intensitas ringan, sedang, maupun lebat,” ungkap Toyib kepada Kalteng Pos, kemarin.

Menyikapi kondisi itu, Toyib menyebut ada beberapa daerah yang rawan terjadi banjir. Berdasarkan peta potensi bencana banjir, ada berapa wilayah yang patut untuk diwaspadai, yakni Kota Palangka Raya, Kapuas, Kotim, dan Katingan.

“Karena itu tiap hari kami terus berkomunikasi intens dengan BPBD kab/kota, TNI/Polri, Dishut, Tagana, MPA, dan unsur-unsur relawan di lapangan agar saling sharing info terkait bencana karhutla, banjir, dan bencana nonalam lainnya melalui grup WhatsApp,” bebernya.

Toyib menyebut, dengan adanya komunikasi itu, diharapkan upaya deteksi dini bencana dan proses penyadartahuan kepada masyarakat dapat berjalan efektif dan efisien dengan sinergi seluruh elemen pentaheliks yang terlibat.

“Pada prinsipnya pemprov siap memberikan bantuan kepada kabupaten/kota jika diperlukan. Provinsi sifatnya back-up, jadi respons awal tentu saja dilakukan oleh kabupaten/kota, jika merasa tidak mampu menangani sendiri, maka pemprov siap turun tangan untuk membantu berdasarkan permintaan dari kabupaten/kota,” tandasnya. (dan/ce/ala/kpfm)

90 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.