Iktikaf di Masjid Kiai Gede demi Raih Lailatul Qadar

PANGKALAN BUN – Ramadan merupakan bulan yang penuh kebaikan dan keberkahan. Pada momentum ini, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal dan ibadah. Seperti yang terlihat pada 10 hari terakhir Ramadan. Banyak umat Islam memilih beriktikaf di Masjid Kiai Gede, masjid kuno yang dibangun pada abad ke-16 di Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).

Tiap hari Masjid Kiai Gede tidak pernah sepi dari kunjungan jemaah yang melaksanakan iktikaf. Seakan sudah terbiasa, para pengurus masjid ataupun warga sekitar tak keberatan dengan keberadaan jemaah yang melaksanakan iktikaf selama bulan puasa.

“Kami tidak keberatan, karena mereka juga sedang menjalankan ibadah, apalagi mereka tidak menggangu waktu ibadah wajib di masjid ini,” ucap warga sekitar, Aris, saat dibincangi Kalteng Pos, Jumat (29/3).

Iktikaf merujuk pada ibadah yang dilakukan dengan cara berdiam diri dalam masjid untuk waktu tertentu, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Umumnya jemaah yang melaksanakan iktikaf di masjid itu melakukan ibadah secara khusuk, mulai dari salat Sunnah, membaca Al-Qur’an, zikir, doa, dan amalan ibadah lainnya.

Iktikaf lebih sering dilakukan selama Ramadan, terlebih menjelang malam Lailatul Qadar; malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam yang penuh kemulian itu, banyak jemaah yang menghabiskan waktunya dengan iktikaf di masjid.  

“Kalau jelang malam Lailatul Qadar, biasanya jemaah yang datang ke masjid lebih banyak, baik untuk melaksanakan ibadah wajib seperti salat maupun kegiatan lainnya seperti mengaji, siang maupun malam hari,” ujar Aris.  

Ramai Dikunjungi Peziarah

Selain beriktikaf di Masjid Kiai Gede, selama Ramadan ini makam Kiai Gede juga ramai dikunjungi peziarah. Makam itu merupakan salah satu tempat bersejarah, sekaligus saksi peradaban Islam di wilayah barat Kalimantan Tengah. Keberadaan makam itu kemudian dihormati oleh masyarakat, hingga sering dikunjungi peziarah dari berbagai kota, bahkan dari luar Kalimantan.

Umumnya peziarah mengunjungi makam Kiai Gede pada awal Ramadan dan akhir Ramadan menjelang Idulfitri.

“Kalau hari biasa pengunjungnya sedikit, tapi kalau hari libur atau tanggal merah lebih banyak peziarah, biasanya mereka datang dari luar kota, bahkan ada yang datang dari luar Pulau Kalimantan,” kata pengurus makam, Muhammad Fahmi.

Menurutnya, kunjungan peziarah cenderung meningkat pada awal dan akhir Ramadan. “Kalau pertengahan bulan puasa biasanya jumlah kunjungan sekitar puluhan jemaah saja, sedangkan hari biasa bisa mencapai ratusan orang dalam sehari,” jelasnya.

Fahmi yang sudah menjaga makam tersebut selama empat tahun terakhir menceritakan, ia pernah menerima kedatangan 1.000-an peziarah dalam sehari.

“Kebanyakan pengunjung datang dari luar kota dalam rombongan, seperti dari Pulau Jawa, Kalimantan Selatan, bahkan Sulawesi,” bebernya.

Keberadaan makam Kiai Gede memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah, karena sejarahnya yang cukup dikenal masyarakat. Bahkan Kai Gede diyakini sebagai pelopor masuknya agama Islam di Kalteng. 

Dalam catatan sejarah, Kiai Gede disebut berasal dari Demak. Ia berlayar dengan puluhan orang pengikut. Dalam perjalanan itu, Kiai Gede sempat singgah di Gresik, kemudian ke Banjarmasin (Kalsel), sebelum akhirnya tiba di Kobar, tepatnya di perairan pinggir Sungai Arut, wilayah Kecamatan Kotawaringin Lama.

“Berkat perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam ke tengah suku Dayak pedalaman Kalimantan saat itu, akhirnya Kiai Gede menjadi sosok yang dihormati hingga sekarang, bahkan pada masa kerajaan, Kiai Gede juga diberi jabatan oleh Kesultanan Kutaringin,” terangnya.

Latihan Habsi Mengisi Waktu sebelum Berbuka

Ada yang menarik dari aktivitas ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa di Masjid Kiai Gede. Jika biasanya ngabuburit dilakukan dengan jalan-jalan santai atau sekadar berkumpul dengan kerabat dan keluarga, lain ceritanya di Masjid Kiai Gede. Ngabuburit diisi dengan kegiatan positif yakni berlatih habsi atau hadrah rebana. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan selama bulan puasa. Berlatih habsyi sembari menunggu waktu berbuka puasa.

“Sebelum bulan puasa, biasanya kami latihan pada malam hari di masjid ini, tapi selama Ramadan latihannya pada sore hari sambil ngabuburit,” kata Aris, salah satu pelatih habsi saat ditemui Kalteng Pos di Masjid Kiai Gede.

Kesenian berebana tidak hanya menjadi sarana hiburan semata, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Islam kepada masyarakat di tengah modernisasi dewasa ini. Sejauh ini grup habsi itu sudah beranggotakan 12 orang. 4 orang di antaranya berusia remaja dan 8 orang anak-anak. Mereka dilatih khusus untuk regenerasi habsyi.

Mereka tidak hanya belajar tentang teknik memainkan instrumen dan menyanyi, tetapi juga memahami makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam tiap lagu yang dibawakan. Hal itu menjadi wujud dari upaya memperkuat identitas keislaman dan memperdalam pemahaman terhadap agama dan budaya Islam.

Rebana sendiri adalah seni musik yang biasanya dimainkan pada acara-acara keagamaan Islam, seperti saat pernikahan, haul, atau peringatan hari besar Islam. “Kadang kami diundang untuk acara di luar seperti pernikahan, tapi kalau hari-hari biasa kami bermain habsi untuk acara peringatan hari besar Islam di masjid ini,” jelas Aris.

Dengan dilestarikannya seni hadrah rebana di Masjid Kiai Gede, diharapkan dapat membuka peluang untuk memperluas pemahaman tentang budaya Islam kepada generasi penerus. Melalui seni, pesan-pesan keindahan, kedamaian, dan persaudaraan yang terkandung dalam agama Islam diharapkan dapat tersampaikan lebih luas dan mendalam kepada masyarakat luas. (lan/ce/ala/kpfm)

108 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.