Bijak dalam Bermedia Sosial

Ilustrasi. (Nina/Jawa Pos)

Saat berselancar di media sosial, kita dengan mudah menjumpai konten foto maupun video yang tidak dapat dipastikan sumbernya. Sering kali disertai dengan caption yang tidak sesuai dengan kejadian nyata sehingga menggiring opini netizen yang melihatnya.

Lalu bagaimana menyikapinya dari sudut pandang etika digital?

Etika bermedia digital, hal seperti itu tidak boleh dilakukan. Semua orang punya privasi. Tanyakan terlebih dahulu kesediaannya. Apapun yang diunggah di media sosial sebaiknya mendapat persetujuan dari orang yang terlibat. Jangan sampai ketika konten tersebut tiba-tiba viral, yang bersangkutan baru tahu. Ditambah caption yang tidak seharusnya sehingga memancing komentar negatif.

Merekam video atau mengambil foto orang lain tanpa persetujuan itu sebetulnya menyalahi privasi. Apalagi sampai mengunggahnya ke media sosial dengan tujuan tertentu. Entah itu konten lucu-lucuan ataupun untuk mempertontonkan kesalahan orang lain. Apalagi jika takarir yang disertakan jauh berbeda dengan situasi aslinya.

Kita harus bersimpati terhadap hal-hal positif di real life. Penuhi media sosial dengan hal-hal yang menginspirasi, menyenangkan, membuat kita melakukan kebaikan, dan yang mengedukasi. Saya rasa ide itu lebih baik daripada memenuhi internet dengan konten bermuatan negatif.

pertama dipastikan, adanya persetujuan (consent). Kedua, yang perlu diingat bahwa tidak semua kejadian nyata yang kita lihat harus difoto atau direkam, kemudian diunggah di media sosial. Apalagi kalau hal itu tidak etis. Harus ada filter terhadap konten yang akan di-share.

Contohnya ketika ingin menolong orang lain dengan merekam atau memotretnya, lantas diunggah dengan caption ajakan membeli supaya jualan orang tersebut laris. Sebetulnya itu hal yang baik. Namun, syaratnya kita harus izin dulu supaya mereka juga siap jika nanti tiba-tiba banyak dikenali orang dari media sosial. Jangan sampai orang tersebut tidak mengetahui apa yang kita bagikan di media sosial.

Sebelum memotret atau memvideokan, kita harus memberikan penjelasan. Baru kemudian mengambil konten dan mengunggahnya. Tunjukkan juga apa yang tadi kita unggah, informasi pada caption-nya seperti apa.

Penjelasan seperti ini merupakan komunikasi yang baik. Keinginan kita untuk membantu juga akan tersampaikan dan bisa diterima dengan tepat. Saat komunikasinya tidak lancar saat mengambil konten dan memviralkan, si penjual bisa jadi khawatir karena tidak tahu informasi apa yang kita sampaikan.

Sebagai pengguna media sosial, kita juga harus lebih bijak dalam menyikapi konten yang ada. Ketika kita tidak benar-benar tahu konten itu sebetulnya terjadi pada siapa dan konteksnya seperti apa, sebaiknya kita tidak ikut menyebarkan.

Jadi, sebagai pengguna media sosial yang bijak sebaiknya kita tidak memberikan like, komen, atau share konten-konten seperti itu. Lihat saja karena engagement-lah yang membuat konten itu semakin viral. Sebuah konten, baik video maupun foto, memang ada yang tidak mencerminkan keadaan sebenarnya. Terkadang itu hanya satu bagian dari sebuah kondisi utuh. Satu part kecil yang diunggah tersebut bisa membangun paradigma ke arah yang tidak sesuai kenyataan. Karena itu, hati-hati dalam mengomentari sebuah konten. Cari tahu duduk permasalahannya. Jangan sampai kita main komentar dan membuat itu viral.

Menyebarluaskan hal yang negatif bisa menjadi cyberbullying kepada pihak tertentu yang dilakukan masyarakat secara tidak sengaja. Namun, ketidaksengajaan itu bisa berakibat fatal jika orang yang bersangkutan ternyata tidak melakukan hal yang dimaksud pada keterangan foto atau video. Hal itu akan menjadi tekanan batin yang dapat memicu depresi jika orangnya tidak kuat.

Mulailah bijak dalam bermedia sosial. (jpc)

276 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published.